Harga Emas Terkoreksi di Bawah USD4.700, Investor Tunggu Sinyal Inflasi AS Pekan Ini
INDRAGIRIONE.COM — Reli emas yang berlangsung dalam sepekan terakhir mulai kehilangan tenaga. Setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak 14 Mei di angka USD4.696,18 per troy ons pada awal perdagangan, harga logam mulia justru berbalik melemah dan hanya menguat tipis 0,17 persen ke posisi USD4.659,05.
Global Head of Commodity Strategy TD Securities, Bart Melek, menilai pelemahan ini lebih disebabkan faktor teknikal ketimbang perubahan fundamental pasar.
"Menurut saya, ini hanya penurunan momentum. Jika ada faktor yang bisa menjelaskan pergerakan ini, kemungkinan karena emas sudah mendekati level resistance kuat di sekitar USD4.700," ujarnya kepada Reuters.
Dolar AS Tertekan, Buyback Obligasi Jadi Katalis Utama
Penguatan emas dalam beberapa sesi terakhir tidak lepas dari pelemahan dolar AS yang mencapai titik terendah dalam lebih dari tiga bulan pada pekan lalu. Salah satu pemicunya adalah keputusan Departemen Keuangan AS yang menggandakan ukuran operasi pembelian kembali surat utang alias buyback untuk obligasi tenor panjang.
Langkah tersebut meningkatkan likuiditas di pasar obligasi dan menekan imbal hasil, yang pada gilirannya membuat aset non-yield seperti emas menjadi lebih menarik dibandingkan instrumen berbunga.
Dua Katalis Makro yang Ditunggu Pasar Pekan Ini
Perhatian investor kini tertuju pada dua agenda penting. Pertama, rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) AS untuk Juli yang dijadwalkan keluar pada Rabu (26/8). Data ini menjadi acuan utama The Fed dalam mengejar target inflasi 2 persen.
Kedua, pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole pada Jumat. Pasar berharap pidato tersebut memberikan petunjuk soal arah kebijakan moneter ke depan, terutama setelah data inflasi produsen dan konsumen AS bulan ini menunjukkan tekanan harga yang lebih moderat.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga AS pada September kini hanya 38 persen. Lingkungan suku bunga tinggi memang menjadi sentimen negatif bagi emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil bunga.
Permintaan China Naik 11%, Geopolitik Iran-IAS Menghangat
Dari sisi permintaan fisik, ada kabar positif. Data yang dirilis Selasa menunjukkan impor bersih emas China melalui Hong Kong pada Juli naik sekitar 11 persen dibandingkan bulan sebelumnya, didorong meningkatnya permintaan investasi di negara konsumen emas terbesar dunia tersebut.
Sementara itu, faktor geopolitik kembali menjadi penyangga harga. Iran berjanji akan merespons perluasan sanksi AS yang bertujuan mengisolasi perekonomiannya. Teheran juga menyatakan keyakinan bahwa mitra dagang utamanya akan menolak tekanan Washington, sembari menilai AS masih berupaya menghidupkan kembali perundingan.
Kombinasi pelemahan dolar, ekspektasi suku bunga yang lebih longgar, serta ketegangan geopolitik membuat prospek emas tetap terjaga. Namun, tembusnya level psikologis USD4.700 menjadi syarat utama untuk membuka ruang kenaikan selanjutnya.
Investasi mengandung risiko.