Rusia Buka Peluang Terima Usulan Damai Ukraina, dengan Syarat Sesuai Target Putin

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, menyatakan negaranya terbuka terhadap usulan damai Ukraina yang dinilai masuk akal.
Penulis: Saiful
Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:22:02 WIB

Ryabkov mengatakan Rusia tidak menutup diri terhadap proposal apa pun yang dinilai masuk akal. Namun ia menekankan bahwa syarat utama tetap mengacu pada tujuan yang telah ditetapkan Kremlin. "Federasi Rusia siap mendengarkan proposal dan ide masuk akal apa pun yang sejalan dengan tujuan yang ditetapkan presiden Rusia dan memenuhi 'realitas di lapangan'," ujarnya.

Pernyataan ini ditafsirkan sebagai sinyal Moskow ingin menghidupkan kembali dukungan administrasi Trump terhadap agenda Rusia. Sebelumnya, Kremlin sempat mengapresiasi Washington yang menunjukkan "pemahaman terhadap posisi Rusia", namun upaya mediasi itu terhenti setelah AS melancarkan perang terhadap Iran.

Syarat Putin yang Menjadi Batu Sandungan

Putin telah menetapkan syarat keras sebelum menyetujui gencatan senjata. Ukraina diminta menyerahkan seluruh wilayah Donbas timur, melakukan demiliterisasi, dan berjanji tidak akan bergabung dengan NATO. Tuntutan ini menjadi pokok permasalahan yang membuat beberapa putaran negosiasi yang dimediasi AS pada awal tahun gagal mencapai kesepakatan.

Pembicaraan lanjutan yang dijadwalkan pada awal Maret batal digelar. Penyebabnya, AS melancarkan perang terhadap Iran bersama Israel. Sebelumnya, beredar rencana perdamaian 28 poin buatan Washington pada November lalu yang memicu kemarahan karena dinilai terlalu banyak mengabulkan tuntutan Rusia.

Utusan khusus AS, Jared Kushner dan Steve Witkoff, memimpin negosiasi antara Moskow dan Kyiv awal tahun ini. Namun Kremlin mengaku belum memiliki informasi baru mengenai kemungkinan kunjungan keduanya.

Ukraina Tunggu Kembalinya Mediator AS

Di sisi lain, Ukraina masih menantikan kepulangan mediator Amerika. Presiden Volodymyr Zelenskyy, dalam pernyataannya Kamis malam, mengatakan sedang menyiapkan keputusan di dalam tim diplomatik. "Pendekatan baru diperlukan di beberapa bidang, terutama di Amerika Serikat," ujarnya, seraya menambahkan bahwa Ukraina membutuhkan hasil.

Zelenskyy sebelumnya bertemu dengan Presiden Donald Trump di Gedung Putih bulan lalu. Pertemuan itu membahas upaya menghidupkan kembali negosiasi dan rencana Ukraina untuk memproduksi rudal Patriot.

Serangan Darat Masih Berlanjut di Kedua Sisi

Sementara diplomasi berjalan di atas kertas, kekerasan di lapangan justru meningkat. Dalam beberapa pekan terakhir, Rusia dan Ukraina sama-sama melancarkan serangan mematikan yang menewaskan puluhan orang. Negara-negara tetangga mulai khawatir akan potensi luapan konflik.

Serangan terbaru terjadi semalam. Di wilayah Kharkiv, Ukraina timur, serangan Rusia menewaskan dua wanita. Dinas darurat negara menulis di Telegram bahwa serangan itu memicu kebakaran di lima bangunan tempat tinggal dan beberapa mobil.

Di wilayah Zaporizhia, sebuah serangan ke rumah menewaskan satu orang dan melukai satu lainnya, kata Gubernur Ivan Federov. Sementara itu, di Rusia, serangan drone Ukraina merusak fasilitas industri di wilayah Perm, Pegunungan Ural, menurut Gubernur Dmitry Makhonin.

Drone Rusia juga merusak pos pemeriksaan perbatasan dengan Moldova di wilayah Odesa, Ukraina selatan. Penjaga perbatasan Finlandia melaporkan sebuah pesawat pengintai yang diduga milik Rusia melanggar wilayah udara Finlandia di Teluk barat pada Kamis.

Reporter: Saiful