Rupiah Melemah 0,83% Sepekan ke Rp 17.758, Tertekan Bunga Acuan AS
INDRAGIRIONE.COM — Nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,03% secara harian ke level Rp 17.758 per dolar AS pada Jumat (18/9), menandai pelemahan tujuh sesi berturut-turut. Secara mingguan, mata uang Garuda terdepresiasi 0,83% terhadap dolar AS seiring tekanan dari kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Data Bloomberg menunjukkan posisi penutupan rupiah pada Jumat (18/9) berada di Rp 17.758 per dolar AS. Pelemahan harian 0,03% itu memperpanjang tren negatif yang sudah berlangsung sepanjang pekan.
Bank Indonesia mencatat kurs Jisdor berada di Rp 17.745 per dolar AS pada hari yang sama, melemah 0,04% dari posisi hari sebelumnya. Dibandingkan perdagangan Jumat pekan lalu, kurs acuan BI itu melemah 0,76%.
Tekanan Bunga Acuan AS Jadi Pemicu Utama
Pergerakan rupiah sepekan ini tidak lepas dari kebijakan suku bunga Amerika Serikat yang masih menjadi magnet bagi aliran modal global. Imbal hasil aset berdenominasi dolar AS yang kompetitif membuat investor cenderung menahan dana di pasar uang Negeri Paman Sam.
Kondisi itu membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menghadapi tekanan jual. Pelemahan tujuh sesi berturut-turut mencerminkan minimnya katalis domestik yang mampu menahan laju depresiasi.
Rincian Pelemahan Rupiah Sepanjang Pekan
- Kurs Bloomberg Jumat (18/9): Rp 17.758 per dolar AS, melemah 0,03% harian
- Kurs Jisdor BI Jumat (18/9): Rp 17.745 per dolar AS, melemah 0,04% harian
- Pelemahan mingguan kurs Bloomberg: 0,83%
- Pelemahan mingguan kurs Jisdor: 0,76%
- Rentetan pelemahan: tujuh sesi berturut-turut
Dampak bagi Investor dan Pelaku Usaha
Bagi investor asing, pelemahan rupiah mengurangi imbal hasil riil dari portofolio obligasi dan saham domestik. Tekanan ini berpotensi memicu aksi keluar dari pasar keuangan Indonesia jika selisih imbal hasil dengan aset dolar AS tetap lebar.
Pelaku usaha yang memiliki kewajiban dalam dolar AS, terutama importir bahan baku dan perusahaan dengan utang valas, menghadapi kenaikan beban biaya. Sementara eksportir berpeluang menikmati harga jual yang lebih kompetitif di pasar global.
Yang Perlu Dicermati ke Depan
Pergerakan rupiah dalam beberapa sesi mendatang akan sangat bergantung pada arah kebijakan suku bunga AS dan respons Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas kurs. Pasar juga menantikan data ekonomi domestik yang bisa menjadi penopang sentimen.
Selama tekanan eksternal belum mereda, ruang penguatan rupiah diperkirakan tetap terbatas. Investor disarankan mencermati posisi kurs acuan BI dan arus modal asing di pasar Surat Berharga Negara sebagai indikator arah jangka pendek.