Danantara Optimalkan Aset BUMN Mulai 2027, Fokus Jalan Tol hingga Pelabuhan

Kepala BPI Danantara Rosan Roeslani menyampaikan rencana optimalisasi aset BUMN usai rapat di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (5/10).
Penulis: Yasir
Selasa, 06 Oktober 2026 | 07:01:31 WIB

INDRAGIRIONE.COM — Danantara menyiapkan langkah baru untuk mengoptimalkan aset BUMN mulai awal 2027, setelah konsolidasi perusahaan pelat merah berjalan. Kepala BPI Danantara Rosan Roeslani menilai besarnya aset BUMN belum sebanding dengan pendapatan dan arus kas yang dihasilkan. Optimalisasi ini menyasar sektor jalan tol, bandara, migas, hingga pelabuhan.

Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menyiapkan tahap lanjutan pengelolaan aset badan usaha milik negara pada awal 2027. Fokusnya bukan lagi sekadar merampingkan jumlah perusahaan, melainkan mendorong aset yang ada agar lebih produktif menghasilkan pendapatan. Kepala BPI Danantara Rosan Roeslani mengungkapkan bahwa pemerintah membuka ruang kerja sama lebih luas dengan sektor swasta untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi.

Rosan menyampaikan hal itu seusai rapat di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin, 5 Oktober. Menurut dia, Presiden Prabowo Subianto meminta aset-aset BUMN dioptimalkan melalui perencanaan yang terukur dan terstruktur.

Aset Besar, Pendapatan Belum Sebanding

Rosan menilai besarnya aset BUMN belum tercermin pada pendapatan dan arus kas yang dihasilkan. "Aset-aset BUMN juga sangat banyak. In terms of aset kita besar, tapi in terms of cash flow-nya, pendapatannya mungkin berbanding asetnya masih sangat kecil," kata Rosan.

Sebagai sovereign wealth fund, Danantara dituntut menghasilkan imbal hasil yang baik dari pengelolaan aset tersebut. Karena itu, tahap berikutnya akan menyasar berbagai sektor. Jalan tol, bandara, minyak dan gas, hingga pelabuhan masuk dalam daftar aset yang akan dianalisis.

"Kita akan analisa semua," ujarnya.

Konsolidasi Jadi Tahap Awal

Rosan menjelaskan konsolidasi yang berjalan selama ini merupakan tahap awal. Fokus selanjutnya adalah meningkatkan produktivitas aset, memperbaiki efisiensi, dan membuka peluang kerja sama dengan dunia usaha.

Keterlibatan swasta terutama terbuka pada usaha yang tidak bersifat strategis dan dinilai dapat dikelola lebih baik oleh sektor tersebut. "Kalau memang yang sudah bagus, sudah bisa dikerjakan oleh private sector, ya silakan, kita dukung," katanya.

Langkah itu berjalan bersamaan dengan perampingan BUMN. Dari 1.074 perusahaan sebelumnya, jumlahnya disebut telah berkurang menjadi 354 melalui penutupan entitas tidak aktif dan sejumlah merger.

Yang Berubah pada 2027

Pada 2027, Rosan memastikan tahap lanjutan tidak lagi hanya berbicara soal jumlah perusahaan. Ukurannya bergeser ke seberapa produktif aset BUMN menghasilkan pendapatan dan imbal hasil.

Perubahan ini menandai orientasi baru pengelolaan perusahaan pelat merah. Setelah bertahun-tahun fokus pada penataan jumlah entitas, perhatian kini diarahkan ke kinerja aset yang sudah ada. Bagi pelaku usaha, rencana ini membuka peluang masuk ke sektor-sektor yang selama ini dikuasai BUMN, khususnya yang dinilai tidak lagi strategis untuk dipegang negara.

Reporter: Yasir