DDMF Bidik Investasi Jangka Panjang, Soroti Kontribusi Ekspor Manufaktur 0,3%
INDRAGIRIONE.COM — Danantara Development Management Fund (DDMF) menegaskan investasi jangka panjang harus menghasilkan nilai tambah melalui penguatan kapasitas produksi, penciptaan lapangan kerja berkualitas, dan pengembangan industri baru. CEO DDMF Sigit Puji Santosa menyampaikan hal itu dalam Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 di Jakarta, Rabu (7/10/2026). Data OECD TiVA 2025 menunjukkan 82% nilai ekspor manufaktur Indonesia tercipta di dalam negeri, namun kontribusi terhadap ekspor manufaktur global baru sekitar 0,3%.
Dalam forum Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 di Jakarta, Rabu (7/10/2026), Sigit menyebut Indonesia memiliki modal besar berupa sumber daya alam, pasar domestik yang luas, dan basis manufaktur yang mapan. Kombinasi itu dinilai bisa menjadi pijakan transformasi ekonomi.
82% Nilai Ekspor Manufaktur Tercipta di Dalam Negeri
Data Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) Trade in Value Added (TiVA) 2025 yang dipaparkan dalam forum menunjukkan sekitar 82% nilai ekspor manufaktur Indonesia tercipta di dalam negeri. Angka itu setara dengan China sebesar 81% dan lebih tinggi dibandingkan Malaysia, Korea Selatan, serta Vietnam.
Meski demikian, kontribusi Indonesia terhadap ekspor manufaktur global masih sekitar 0,3%. Kesenjangan antara tingginya nilai tambah domestik dan kecilnya pangsa pasar global menjadi sorotan utama dalam forum tersebut.
"Namun, kontribusi Indonesia terhadap ekspor manufaktur global masih sekitar 0,3%. Kondisi ini menunjukkan peluang besar untuk meningkatkan skala, kompleksitas, dan daya saing industri nasional," kata Sigit.
Semikonduktor hingga AI Jadi Sumber Pertumbuhan Baru
DDMF menilai tahap industrialisasi perlu berfokus pada penguatan pemasok domestik, kapabilitas teknologi, inovasi, dan keterhubungan dengan pasar global. Industri seperti semikonduktor, kecerdasan artifisial, serta manufaktur berbasis teknologi disebut dapat menjadi sumber pertumbuhan baru.
Ketiga sektor itu juga diharapkan memperluas kesempatan kerja berkualitas, bukan sekadar menambah jumlah tenaga kerja. Arah ini sejalan dengan kebutuhan Indonesia mengembangkan industri dengan kompleksitas dan nilai tambah lebih tinggi agar mampu bersaing secara global.
Modal Besar, Tantangan pada Kompleksitas Industri
Sigit menegaskan Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk industrialisasi. Tantangan utamanya bukan pada ketersediaan sumber daya, melainkan bagaimana mengembangkan industri dengan tingkat kompleksitas dan nilai tambah yang lebih tinggi.
Penguatan kapasitas produksi, pengembangan talenta, dan pembangunan industri bernilai tambah tinggi menjadi tiga pilar yang disebut DDMF dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Pendekatan itu diharapkan membuat investasi tidak berhenti pada keuntungan jangka pendek.
Bagi pelaku industri dan investor, sinyal DDMF ini mengarah pada peluang pembiayaan jangka panjang di sektor manufaktur bernilai tambah. Fokus pada pemasok domestik dan teknologi juga membuka ruang kemitraan bagi perusahaan lokal yang ingin masuk rantai pasok global.