IHSG di Bawah 5.000, Danantara Sebut Saham BUMN Kini Murah dan Siap Masuk Bertahap

CEO Danantara Rosan Roeslani menilai koreksi IHSG ke bawah 5.000 sebagai peluang investasi jangka panjang.
Penulis: Ragil
Selasa, 20 Oktober 2026 | 06:21:02 WIB

INDRAGIRIONE.COM — Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara menilai koreksi IHSG ke bawah level 5.000 justru membuka peluang investasi jangka panjang. Valuasi emiten BUMN dinilai sudah sangat murah, dengan yield dividen saham perbankan mencapai dua digit. Danantara menyiapkan strategi masuk secara bertahap setelah kajian fundamental dan teknikal.

Chief Executive Officer Danantara Rosan Roeslani menyatakan pihaknya tidak melihat pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan sebagai sinyal bahaya. Sebaliknya, penurunan harga saham di Bursa Efek Indonesia dinilai menciptakan titik masuk yang menarik bagi investor dengan horizon panjang.

Pernyataan itu disampaikan Rosan saat ditemui di Istana Negara, Senin (19/10/2026), merespons kondisi pasar saham domestik yang terus tertekan.

Fundamental Emiten Dinilai Tetap Solid di Tengah Koreksi

Rosan menegaskan, evaluasi terhadap perusahaan-perusahaan portofolio Danantara, termasuk badan usaha milik negara, menunjukkan kondisi yang masih kuat. Menurutnya, penurunan harga saham tidak serta-merta mencerminkan melemahnya kinerja bisnis emiten.

"Kita kan melihat kembali evaluasi eh perusahaan-perusahaan kita sangat baik, ya, sangat-sangat solid dan juga valuasinya juga boleh dibilang kan sekarang menjadi sangat murah, ya, gitu. Dan tentunya kita sebagai investor, baik di pasar modal maupun BUMN yang kita miliki, kita justru melihat ini adalah opportunity untuk kita investasi jangka panjang, gitu," ujarnya.

Dia menekankan, keputusan investasi Danantara tidak semata mengikuti pergerakan harga saham harian. Prospek bisnis dan kekuatan fundamental perusahaan dalam jangka panjang menjadi pertimbangan utama.

Saham Perbankan Jadi Contoh: PBV di Bawah 1 Kali, Dividen 13-16%

Rosan mencontohkan sektor perbankan sebagai gambaran emiten dengan fundamental relatif sehat namun valuasi sudah tertekan. Sejumlah saham bank bahkan diperdagangkan dengan rasio price to book value di bawah satu kali, artinya harga pasar berada di bawah nilai buku perusahaan.

Dari sisi imbal hasil, Rosan menyebut saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menawarkan yield dividen sekitar 16%. Sementara PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) berada di kisaran 13%.

Dengan tingkat imbal hasil tersebut, menurut Rosan, investor berpotensi memperoleh pendapatan dari pembagian dividen tanpa harus sepenuhnya bergantung pada kenaikan harga saham.

"Nah, belum saham-saham kita yang evaluasinya menjadi sangat murah, gitu. Jadi ke depannya yang kita mengetahui ya sangat-sangat baik, ya. Jadi, buat saya sih, buat kami kita juga bersama melakukan analisa. Kalau ini kan sifatnya selama valuasinya menarik, kemudian pondasinya BUMN kita juga kuat, ya kan?" jelasnya.

Strategi Masuk Bertahap, Bukan Sekaligus

Meski melihat peluang, Danantara tidak akan bergerak agresif. Rosan menegaskan setiap keputusan investasi melewati kajian menyeluruh, mencakup analisis fundamental, teknikal, hingga persepsi pasar terhadap saham yang menjadi target.

Strategi penambahan kepemilikan saham akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan daya tarik valuasi dan kekuatan fundamental masing-masing emiten.

"Saham-saham kita baik, ya ini memang harus, bukan harus, kita melihat ini sebagai analisa secara komprehensif, ini adalah kesempatan untuk kita masuk secara secara bertahaplah, gitu," kata Rosan.

Apa Artinya bagi Investor Ritel

Sinyal dari Danantara ini relevan bagi investor yang tengah menimbang langkah di tengah tekanan IHSG. Pernyataan tersebut mengonfirmasi bahwa investor institusional besar masih melihat nilai di pasar saham domestik, khususnya pada emiten berkapitalisasi besar dengan riwayat dividen stabil.

Namun Rosan tidak menyebut nominal dana yang disiapkan maupun saham spesifik yang akan ditambah. Ketika ditanya apakah langkah tersebut berarti Danantara akan menambah kepemilikan saham di BEI, dia kembali menegaskan keputusan bergantung pada hasil analisis masing-masing saham.

"Ya, kita melihat ini adalah, ya tadi kan sudah saya sampaikan, ya. Kita masuk ke saham-saham yang tentunya sudah dianalisa baik secara fundamental, kita kan lebih analisa secara fundamental, ya. Secara fundamental, secara teknikal, secara apa? Persepsi pasar dan lain-lain, ya udah. Karena kita memutuskan untuk masuk secara bertahap," pungkasnya.

Bagi pelaku pasar, pernyataan ini memberi gambaran bahwa tekanan jual yang menekan IHSG ke bawah 5.000 tidak sepenuhnya dibaca sebagai sinyal keluar oleh pemilik modal besar. Fokus Danantara pada yield dividen dan PBV menunjukkan pendekatan valuasi, bukan momentum jangka pendek.

Reporter: Ragil