Kebun Apel Bumiaji Menyusut, Alih Fungsi Lahan Ancam Identitas Kota Batu
INDRAGIRIONE.COM — Luas lahan apel di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur, terus menyusut seiring beralihnya kebun menjadi vila, resor, dan fasilitas wisata. Penelitian Prayitno dkk. (2020) mencatat penyusutan lahan apel di Kota Batu berjalan bersamaan dengan menguatnya sektor pariwisata dan jasa sebagai pendorong perubahan penggunaan lahan. Pergeseran ini mengancam identitas wilayah sekaligus mata pencaharian petani yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup dari kebun apel.
Bumiaji berada di lereng Gunung Arjuno dengan kondisi tanah dan iklim yang mendukung budidaya apel. Selama puluhan tahun kawasan ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi apel di Jawa Timur. Bagi warga setempat, kebun apel bukan sekadar lahan produktif, melainkan bagian dari identitas wilayah dan pengetahuan yang diwariskan antargenerasi.
Namun lanskap itu berubah. Lahan yang sebelumnya ditanami apel perlahan beralih menjadi vila, resor, dan berbagai fasilitas pariwisata. Penjelasan yang paling mudah adalah petani tergiur harga tanah yang ditawarkan investor, lebih menguntungkan dibanding hasil kebun.
Penjelasan itu tidak sepenuhnya salah, tetapi tidak cukup menggambarkan persoalan. Sebagian petani disebut tetap ingin mempertahankan kebun apel, hanya saja tanaman mereka semakin sulit berbuah.
Tekanan Iklim dan Produktivitas yang Menurun
Ruminta (2015) menunjukkan perubahan iklim di Kota Batu berdampak terhadap produktivitas apel. Suhu yang meningkat, tekanan pada tanah, dan biaya produksi yang semakin berat membuat hasil kebun tidak lagi seperti sebelumnya.
Dalam perspektif neo-materialisme, tanah, tanaman, iklim, dan kondisi geografis turut membentuk perubahan sosial, bukan hanya manusia yang menjadi aktor utama. Konsep assemblage yang dikembangkan Deleuze dan Guattari (1987), lalu diperluas Manuel DeLanda (2006), membaca kebun apel sebagai kumpulan elemen manusia dan non-manusia yang saling terhubung.
Di sebuah kebun apel terdapat petani, tanaman, tanah, air, iklim, pupuk, pasar, dan kebutuhan rumah tangga. Selama elemen-elemen itu saling mendukung, pertanian dapat berjalan. Ketika salah satu elemen berubah, hubungan tersebut ikut bergeser.
Bruno Latour (2005) melalui Actor-Network Theory menjelaskan bahwa benda dan unsur nonmanusia dapat menjadi aktor ketika keberadaannya menghasilkan perbedaan dalam suatu rangkaian tindakan. Tanaman apel memiliki kebutuhan biologis tertentu agar dapat tumbuh dan berbuah optimal. Ketika kondisi lingkungan berubah, kemampuan tanaman menghasilkan buah ikut berubah, dan pilihan yang tersedia bagi petani pun menyempit.
Ketika Lanskap Bernilai Bagi Pariwisata
Bagi petani, tanah dinilai berdasarkan kemampuannya menghasilkan apel. Bagi investor pariwisata, tanah yang sama bernilai karena pemandangan, lokasi, udara sejuk, dan potensinya menjadi destinasi wisata.
Di sinilah terjadi perubahan nilai. Lanskap yang sebelumnya mendukung pertanian apel sekaligus menjadi daya tarik bagi industri pariwisata. Kondisi geografis yang dahulu menopang pertanian justru menjadi magnet bagi sektor jasa dan wisata.
Tania Murray Li (2014) menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan tidak dapat dilepaskan dari hubungan antara kapital, institusi, dan kondisi material setempat. Dalam konteks Bumiaji, melemahnya produktivitas pertanian berjalan beriringan dengan meningkatnya daya tarik lahan bagi industri pariwisata.
Ketika kebun semakin sulit memberikan hasil, tawaran dari sektor pariwisata menjadi pilihan yang sulit ditolak. Alih fungsi lahan pun bukan semata keputusan ekonomi jangka pendek, melainkan hasil interaksi panjang antara manusia, tanaman, tanah, iklim, pasar, dan pariwisata.