S&P 500 Naik 0,19% ke 7.666 Usai Yield Obligasi AS Turun dari Puncak 24 Tahun
INDRAGIRIONE.COM — Indeks S&P 500 ditutup menguat 0,19% ke level 7.666,45 pada perdagangan Kamis (1/10), rebound setelah yield obligasi pemerintah AS berbalik turun dari level tertingginya dalam lebih dari dua dekade. Nasdaq Composite hanya naik tipis 0,04% ke 26.871,60, sementara Dow Jones Industrial Average bertambah 20,51 poin atau 0,04% ke 50.926,56. Pasar saham bergerak berlawanan arah dengan obligasi, sehingga penurunan yield menjadi katalis utama penguatan indeks.
Rebound Wall Street terjadi setelah yield obligasi tenor 10 tahun sempat menyentuh 5,344%, level tertinggi sejak 2002. Yield tenor 30 tahun juga mencapai puncak dalam 24 tahun. Menjelang perdagangan tengah hari, tekanan berbalik mereda: yield 10 tahun dan 30 tahun masing-masing turun 5 basis poin dan 3 basis poin, sedangkan yield tenor 2 tahun turun lebih tajam 10 basis poin.
Pasar Obligasi Mulai Kelelahan
CEO KKM Financial Jeff Kilburg menilai lonjakan yield yang terlalu cepat dalam waktu singkat mulai memunculkan tanda kejenuhan di pasar obligasi.
"Saya pikir ada sedikit kejenuhan di pasar obligasi. Yield telah bergerak naik 50 basis poin dalam 18 hari perdagangan setelah Ketua The Fed [Kevin] Warsh mengisyaratkan di Jackson Hole bahwa kenaikan suku bunga memang akan terjadi," kata Kilburg, dikutip dari CNBC Internasional, Jumat (2/10).
Kilburg meyakini kenaikan yield menuju 5% hanya akan bertahan singkat. Namun, arah pasar obligasi masih bergantung pada penyelesaian konflik Iran.
Harga Minyak Naik, Batasi Penguatan Saham
Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 2,7% dan ditutup pada US$92,87 per barel. Pelaku pasar menanti langkah Presiden Donald Trump terkait konflik Iran, termasuk kemungkinan penundaan tindakan militer hingga setelah pemilu paruh waktu AS.
Kenaikan harga minyak menjadi penahan laju penguatan indeks saham. Pergerakan saham belakangan memang cenderung berlawanan dengan yield obligasi: saat yield turun, saham menguat, tetapi tekanan energi membatasi besarnya kenaikan.
Micron Melonjak 3% Usai Kinerja Kuartalan
Saham Micron menguat 3% setelah perusahaan membukukan kinerja keuangan yang kuat. Pendapatan Micron tercatat meningkat empat kali lipat pada kuartal terakhir, dengan margin laba mencapai 87%.
Meski begitu, Micron berencana menaikkan upah pekerja. Langkah itu berpotensi menekan margin dibandingkan ekspektasi analis Wall Street.
"Kami sangat senang dan bangga dapat memberikan insentif kepada anggota tim kami sejalan dengan kinerja perusahaan yang mencatat rekor," kata CEO Micron Sanjay Mehrotra.
Yang Perlu Dicermati Investor
Rebound indeks AS kali ini bergantung pada dua variabel yang belum selesai: arah yield obligasi dan perkembangan konflik Iran. Selama yield bertahan di bawah puncaknya, ruang penguatan saham masih terbuka. Sebaliknya, jika yield kembali menembus 5,344%, tekanan jual berpotensi muncul lagi.
Bagi investor Indonesia, pergerakan Wall Street dan yield AS tetap menjadi acuan arus modal asing ke pasar domestik. Yield AS yang lebih rendah biasanya mengurangi daya tarik aset berdenominasi dolar dan membuka ruang bagi masuknya dana ke pasar berkembang, termasuk IHSG.