Subsidi LPG 2026 Tembus Rp100 Triliun, Pemerintah Uji Tabung CNG 3 Kg

Menteri Bahlil Lahadalia meresmikan Kilang LPG Cilamaya di Karawang, Jawa Barat.
Penulis: Ragil
Jumat, 16 Oktober 2026 | 09:21:01 WIB

INDRAGIRIONE.COM — Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia mengungkapkan subsidi liquefied petroleum gas (LPG) kini membengkak mendekati Rp100 triliun akibat lonjakan harga minyak mentah Indonesia. Kenaikan ini dipicu gejolak geopolitik global yang menekan pasokan energi dunia. Pemerintah menyiapkan compressed natural gas (CNG) sebagai alternatif, dengan tabung 3 kg masih dalam tahap pengujian kelaikan.

Bahlil menyampaikan hal itu saat meresmikan Kilang LPG Cilamaya di Karawang, Jawa Barat, Kamis (15/10/2026). Menurutnya, lonjakan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) berimbas langsung pada beban subsidi negara.

"Saat ICP masih di posisi 70 dolar AS per barel, nilai subsidi kita mencapai Rp87 triliun. Namun, begitu ICP rata-rata naik ke angka 90 hingga 100 dolar AS per barel, subsidi kita melonjak di atas hampir Rp100 triliun," ujar Bahlil.

Pemicu Lonjakan: Gejolak Geopolitik Global

Bahlil menjelaskan, kenaikan ICP tidak lepas dari ketidakpastian geopolitik internasional. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat-Israel dengan Iran, perang Rusia-Ukraina, hingga meluasnya tensi keamanan di Timur Tengah memicu krisis pasokan energi dunia.

"Hampir seluruh negara saat ini berfokus pada strategi mengamankan ketahanan energi dalam negeri masing-masing. Ini menjadi tantangan besar bagi Indonesia," tegasnya.

ICP September 2026 Capai 112,81 Dolar AS per Barel

Data resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat ICP September 2026 ditetapkan 112,81 dolar AS per barel. Angka itu melonjak 23,38 dolar AS dibanding ICP Agustus 2026 yang berada di level 89,43 dolar AS per barel.

Penetapan tersebut dituangkan dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 395.K/MG.03/MEM.M/2026 tentang Harga Minyak Mentah Indonesia Bulan September 2026.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman menegaskan, lonjakan ICP merefleksikan tingginya risiko gangguan pasokan di pasar internasional. Kenaikan harga terjadi menyeluruh pada semua benchmark minyak mentah dunia.

"Eskalasi konflik militer serta kebuntuan jalur diplomasi di Timur Tengah—khususnya ketegangan yang melibatkan AS dan Iran—meningkatkan ancaman keamanan jalur pelayaran vital di Selat Hormuz," terang Laode.

Ia menambahkan, penundaan penyesuaian kuota produksi oleh OPEC+ serta maraknya serangan terhadap infrastruktur kilang dan terminal ekspor di Rusia serta kawasan Laut Merah semakin memperketat volume pasokan minyak mentah global.

CNG Jadi Opsi Substitusi Impor LPG

Menghadapi tekanan subsidi impor LPG, pemerintah mempercepat transisi menuju CNG atau gas alam dikompresi. Bahlil menyebut CNG bukan komoditas baru karena telah dimanfaatkan luas oleh sektor industri, hotel, dan restoran.

"Penggunaan CNG jauh lebih efisien dengan harga 30 hingga 40 persen lebih murah dibanding LPG. Gas jenis C1 dan C2 yang menjadi bahan bakunya sangat melimpah di tanah air," ungkap Bahlil.

Pemerintah optimistis CNG mampu menjadi jawaban atas ketergantungan impor LPG. Fokus utama kementerian saat ini menyelesaikan tahap uji coba tabung CNG ukuran 3 kg untuk masyarakat.

"Ini adalah langkah strategis menciptakan substitusi impor. Untuk tabung kapasitas 12 kg sudah beroperasi dan digunakan, sementara tabung 3 kg saat ini sedang dalam tahap pengujian kelaikan," tambahnya.

Dampak bagi Masyarakat

Beban subsidi LPG yang terus membengkak berpotensi memengaruhi kebijakan energi rumah tangga ke depan. Pemerintah belum mengumumkan perubahan harga atau skema distribusi LPG untuk konsumen.

Masyarakat yang ingin memantau perkembangan kebijakan subsidi dan transisi energi dapat mengakses kanal resmi Kementerian ESDM. Informasi mengenai uji coba tabung CNG 3 kg juga akan diumumkan melalui jalur resmi pemerintah.

Waspadai informasi yang mengatasnamakan program subsidi atau penyaluran tabung CNG dari pihak tidak resmi. Pastikan setiap informasi berasal dari kanal pemerintah untuk menghindari penipuan.

Reporter: Ragil