Wamenkeu Juda Agung: Jendela Bonus Demografi RI Tersisa 10-15 Tahun

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung berbicara dalam Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Jakarta Selatan, Selasa (13/10).
Penulis: Saiful
Rabu, 14 Oktober 2026 | 06:01:31 WIB

INDRAGIRIONE.COM — Wakil Menteri Keuangan Juda Agung memperingatkan peluang Indonesia memanfaatkan bonus demografi tinggal 10 hingga 15 tahun lagi sebelum tertutup. Setelah periode emas itu, rasio ketergantungan diproyeksikan melonjak pada 2035-2040 seiring bertambahnya penduduk lanjut usia yang harus ditanggung kelompok produktif.

Peringatan itu disampaikan Juda dalam acara Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Jakarta Selatan, Selasa (13/10). Menurutnya, rentang waktu tersebut menjadi kesempatan terakhir bagi Indonesia untuk mengubah ledakan penduduk usia produktif menjadi kekuatan ekonomi riil.

"Dalam sekitar 10-15 tahun ke depan, Indonesia masih memiliki peluang memanfaatkan bonus demografi dengan angkatan kerja besar, generasi muda yang semakin terhubung dengan teknologi, serta pasar domestik yang luas," ujar Juda.

Rasio Ketergantungan Masih di Fase Emas pada 2026

Juda menjelaskan rasio ketergantungan Indonesia pada 2026 masih berada pada periode emas atau golden period. Artinya, jumlah penduduk usia produktif masih jauh melampaui kelompok non-produktif.

Namun, besarnya populasi usia produktif tidak otomatis menjelma menjadi bonus ekonomi. Menurut Juda, angkatan kerja yang besar hanya menjadi keunggulan nyata jika diimbangi kualitas pendidikan, keterampilan, kesehatan, dan ketersediaan lapangan kerja yang memadai.

"Jika penciptaan pekerjaan tertinggal, keterampilan tidak sesuai dengan kebutuhan, produktivitas jalan lambat, maka kesempatan golden period itu akan terlewatkan," ujar Juda.

Bahaya Menua Sebelum Menjadi Negara Kaya

Juda menekankan agar Indonesia tidak terjebak menjadi negara yang menua sebelum berhasil menjadi negara kaya. Kondisi itu lazim disebut middle income trap, ketika pendapatan per kapita stagnan sementara struktur usia penduduk bergeser ke kelompok lansia.

Pemerintah memperkirakan memasuki periode 2035-2040, rasio ketergantungan kembali melonjak. Populasi lanjut usia atau non-produktif bertambah, sementara bebannya harus ditanggung penduduk produktif yang jumlahnya mengecil.

"Sehingga, kita harus memanfaatkan kesempatan momentum (bonus demografi) ini (dengan) meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan membangun perusahaan yang mampu bersaing di pasar global," ujar Juda.

Pekerjaan Rumah bagi Pemerintah dan Dunia Usaha

Dari sisi kebijakan fiskal, peringatan Juda menyiratkan tekanan ganda. Negara perlu menjaga belanja pendidikan dan kesehatan tetap efisien, sekaligus menciptakan iklim investasi yang mampu menyerap angkatan kerja baru setiap tahun.

Bagi dunia usaha, sinyal ini menjadi pengingat soal ketersediaan talenta. Perusahaan yang lambat berinvestasi di pelatihan dan adopsi teknologi berisiko kehilangan daya saing ketika pasar tenaga kerja global makin terbuka.

Sejumlah ekonom sebelumnya menilai bonus demografi hanya bisa dikonversi menjadi pertumbuhan tinggi jika produktivitas naik dan sektor padat karya bergeser ke industri bernilai tambah. Tanpa itu, ledakan usia produktif justru berpotensi menambah beban pengangguran terbuka.

Reporter: Saiful