Pilihan
Terkait Ornamen Tugu Tanjak di Pantai Selatbaru, Tokoh Muda Bengkalis Meminta LAM Tegas
INDRAGIRIONE.COM, BENGKALIS - Sorotan terhadap ornamen Tugu Tanjak di Pantai Selatbaru Bengkalis mulai menuai perbincangan. Banyak pihak mempertanyakan filosofi dan makna pucuk rebung mengarah ke bawah pada bagian karangan atau solek tanjak. Bahkan ada yang mulai menduga bahwa tugu dengan tapak, bengkong, simpul berwarna hitam, dan karangan dengan pucuk rebung berwarna kuning emas mengarah ke bawah, tidak sesuai jati diri anak Melayu.
Salah seorang yang mempertanyakan adalah Muhammad Fachrorozi. Menurut Tokoh Muda Bengkalis ini ornamen Pucuk Rebung pada karangan sebuah tanjak lazimnya mengarah ke atas, tapi pada Tugu Tanjak di Selatbaru justru sebaliknya.
Bagi lelaki Melayu, ungkapnya, tanjak bukan hanya sekadar penutup kepala, tapi merupakan simbol kehormatan, marwah, martabat, dan jati diri. Yang dahulu dipakai oleh raja, panglima, dan pendekar.
Sebagai anak keturunan Melayu Riau, Muhammad Fachrorozi yang akrab disapa Agam menekankan pentingnya menempatkan simbol Melayu pada posisi yang lazim, termasuk pada Tugu Tanjak di Pantai Selatbaru tersebut.
Dari historis tersebut, ia mendesak Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Bengkalis sebagai benteng kebudayaan bertindak tegas. Pasalnya, ornamen atau simbol dari nilai kebudayaan itu sendiri tidak tegak lurus dengan nilai filosofis yang telah menjadi panutan secara historis Melayu.
“Saya tidak mempersoalkan pembangunan apa pun, tapi yang melambangkan nilai dan bentuk dari historis kebudayaan Melayu jangan sampai melenceng,” kata Agam kepada media ini, Minggu (11/4/2026).
Menurutnya, Melayu tidak hanya terjaga dengan simbol, tapi juga penuh rasa adab sebagai kekuatan pribadi yang luhur dari setiap keberlangsungan insan-insan Melayu itu sendiri.
“Sesuatu yang tak lazim serta salah, wajib untuk tidak diterima. Karena berpotensi merusak nilai permanen sejarah bagi generasi Melayu,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, Agam juga mengingatkan LAM Kabupaten Bengkalis sebagai benteng dalam melestarikan kebudayaan Melayu. Tanggung jawab moral berada di pundak LAM sebagai pengayom pada wilayah yang dimaksud.
“LAM harus tegas dalam memandang nilai yang dipandang penting bagi semangat Melayu," tegasnya.
Diungkapkan Agam, akar historis utama pucuk rebung secara garis besar mengartikan sesuatu yang baik, penuh pengharapan, kuat, tegak lurus dan menjadi pribadi yang berguna. Serta bisa juga mengartikan hubungan pribadi yang lurus kepada Sang Pencipta dan juga alam.
“Jika ornamen Tugu Tanjak tersebut salah harus diperbaiki, jangan mencari dalil,” ucapnya.
Pada kesempatan itu, ia juga mengingatkan instansi pemerintah yang memiliki kegiatan di bidang kebudayaan agar melakukan kajian mendalam dengan melibatkan lembaga yang kompeten sebelum melaksanakan program tersebut.
Sementara itu, Vitra Andready Romadhani selaku konsultan perencana proyek Tugu Tanjak di Selatbaru ketika dikonfirmasi belum bersedia memberi penjelasan. Ia berjanji akan memberi penjelasan dengan didampingi kepala bidang terkait di Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Bengkalis, yang juga sebagai PPTK proyek.
“Nanti kita jelaskan bersama PPTK, karena saya tidak bisa memberi penjelasan mendalam terkait hal ini tanpa dampingan dari PPTK,” jawab Vitra melalui pesan WhatsApp. (Rudi)





.jpeg)







Tulis Komentar