MRT Siapkan Revitalisasi Kota Tua, Konsep Heritage Beda dari Blok M

Kantor MRT Jakarta menjadi lokasi workshop MRT Jakarta Fellowship Program 2026, Rabu (9/9).
Penulis: Yasir
Kamis, 10 September 2026 | 07:41:01 WIB

INDRAGIRIONE.COM — Rencana itu disampaikan Division Head Business Planning and Expansion Division MRT Jakarta Samuel Ryan Pradipta Pranowo dalam workshop MRT Jakarta Fellowship Program 2026 di Kantor MRT, Jakarta Pusat, Rabu (9/9). Menurut dia, revitalisasi Kota Tua ditargetkan membuat kawasan kembali ramai tanpa mengorbankan karakter heritage yang sudah menjadi ciri khasnya.

Kota Tua Tidak Akan Meniru Blok M Secara Mentah

Jika Blok M diarahkan menjadi ruang bagi anak muda dengan perpaduan gaya urban dan nostalgia, Kota Tua akan bertumpu pada sejarahnya. Identitas Glodok sebagai kawasan elektronik dan Pecinan tetap menjadi bagian dari karakter kawasan yang ingin dipertahankan.

MRT melihat peluang menambahkan aktivitas retail, komunitas, hingga kegiatan pendukung fungsi wisata di kawasan tersebut. Pendekatan ini sejalan dengan konsep pengembangan kawasan yang menempatkan transportasi publik sebagai pusat aktivitas, bukan kendaraan pribadi.

Dengan begitu, ruang pejalan kaki, akses menuju transportasi, aktivitas ekonomi, dan ruang publik dirancang menjadi satu ekosistem.

Blok M Baru Separuh Jalan, Jadi Acuan Utama

Sebelum membawa konsep serupa ke Kota Tua, MRT lebih dulu mengembangkan pendekatan placemaking di Blok M. Namun, pekerjaan di kawasan itu belum tuntas. Samuel menyebut revitalisasi Blok M baru berjalan sekitar separuh dari keseluruhan rencana.

"Beberapa konsep ini akan diterapkan MRT, yang pertama di Blok M kemarin sudah, walaupun itu baru setengah jalan. Blok M akan dibuat jauh lebih rapi dan lebih bagus lagi, jadi kami sebetulnya baru setengah jalan untuk revitalisasi Blok M, dan konsep ini nanti akan diterapkan di Kota Tua juga," kata Samuel.

Transformasi Blok M terlihat dari perubahan aktivitas kawasan. Dari yang sebelumnya relatif sepi, MRT mencatat jumlah pengunjung kini mencapai sekitar 40 ribu orang per hari pada hari kerja.

Pada akhir pekan tanpa acara khusus, jumlahnya berkisar 60 ribu-70 ribu orang. Ketika ada event, angka kunjungan dapat meningkat hingga sekitar 80 ribu-90 ribu orang.

Hampir 500 UMKM Sudah Masuk Ekosistem MRT

Perubahan Blok M tidak hanya ditopang pembangunan fisik. Taman Literasi, Blok M Hub, berbagai acara komunitas, festival, serta masuknya pelaku usaha menjadi bagian dari upaya menjaga kawasan tetap memiliki aktivitas.

MRT mencatat hampir 500 UMKM telah menjadi tenant dalam ekosistem yang dikembangkannya. Keberadaan pelaku usaha kecil itu menjadi bagian dari strategi agar kawasan tidak hanya ramai ketika ada acara besar.

Strategi ini menjadi gambaran awal bagaimana MRT berencana mengelola kawasan Kota Tua ke depan, dengan komunitas dan pelaku usaha lokal sebagai penopang aktivitas harian.

Jukir Lama Diserap Jadi Petugas Parkir Resmi

Ada sisi lain dari revitalisasi Blok M yang tidak selalu terlihat dari perubahan bangunan, yakni bagaimana pekerja lama di kawasan tersebut ikut diserap dalam ekosistem baru. MRT memandang komunitas dan pekerja yang sudah lebih dulu berada di kawasan sebagai bagian yang perlu dilibatkan.

Salah satunya para juru parkir atau jukir lama. Sejumlah jukir yang sebelumnya beraktivitas secara informal kemudian beralih menjadi petugas parkir resmi.

"Dulu masuk Blok M tuh masuk bayar, dan kalau mau parkir kayak ada lagi jukirnya. Nah, sekarang kalau teman-teman perhatikan sudah enggak ada. Kenapa? Karena jukirnya sudah kerja jadi petugas parkir resmi," ujar Samuel.

Ia mengatakan para pekerja tersebut pada dasarnya membutuhkan lapangan pekerjaan. Karena itu, MRT berupaya merangkul pekerja yang memang sudah berada di kawasan ketika proses pengembangan dilakukan.

Apa Artinya bagi Warga dan Pelaku Usaha Kota Tua

Bagi pelaku usaha di Glodok dan sekitar Kota Tua, rencana ini membuka peluang masuknya kunjungan yang lebih stabil, terutama jika pola Blok M terulang. Namun, MRT belum menyebut timeline pasti kapan revitalisasi Kota Tua mulai dikerjakan.

Yang jelas, pendekatan yang dipakai bukan sekadar mempercantik wajah kawasan. Placemaking dipahami sebagai upaya menghidupkan sebuah tempat melalui aktivitas, komunitas, konektivitas, hingga identitas yang membuat orang punya alasan untuk datang dan kembali.

Reporter: Yasir