Produksi Sawit Terancam Susut 3 Juta Ton, Pemerintah Andalkan Pupuk Tepat Waktu

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan pemerintah memastikan ketersediaan pupuk tepat waktu untuk menjaga produktivitas sawit nasional.
Penulis: Saiful
Selasa, 01 September 2026 | 09:02:01 WIB

INDRAGIRIONE.COM — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengakui fenomena iklim El Nino bakal memberi pengaruh terhadap produktivitas sawit, meski ia berharap dampaknya tidak sedalam proyeksi Gapki. Ia menegaskan bahwa kelangkaan pupuk adalah risiko utama yang harus dicegah agar produksi tidak anjlok lebih jauh.

"Kalau sawit mudah-mudahan tidak dampaknya. Mungkin ada pengaruhnya tapi mudah-mudahan tidak besar," ujar Amran di Karawang, Jawa Barat, Senin (31/8).

Tiga Langkah Kunci Menjaga Produktivitas Sawit

Pemerintah tidak tinggal diam menghadapi ancaman penurunan produksi. Ada tiga fokus utama yang disiapkan untuk menjaga tingkat produktivitas perkebunan sawit nasional:

  • Memastikan ketersediaan pupuk dan penyalurannya tepat waktu
  • Memperbaiki pemeliharaan tanaman, termasuk pengendalian hama dan penyakit
  • Mengatasi dampak kekeringan dengan pengairan di lokasi yang memungkinkan

"Upaya kita adalah tentu jangan sampai kekurangan pupuk. Pupuknya harus tepat waktu. Kemudian pemeliharaannya, kemudian hama, kemudian dampak kekeringan," kata Amran.

Dampak Kekeringan Masih Terbatas Dibanding Luas Lahan Nasional

Meski El Nino memicu kekeringan, Amran menyebut dampaknya terhadap lahan pertanian sejauh ini relatif kecil. Berdasarkan laporan terakhir, baru sekitar 30 ribu hektare lahan yang mengalami kekeringan, sementara luas tanam nasional mencapai lebih dari 11 juta hektare.

Pemerintah mengklaim lahan yang terdampak tersebut telah ditangani. Amran menyebut lahan-lahan yang masih produktif tetapi belum ditanami juga akan dioptimalkan, terutama yang memiliki potensi sumber air.

"30 ribu (hektare lahan) ini kita tangani, di luar 30 ribu kita target Jawa kalau bisa 100 ribu (hektare). 100 ribu (hektare) yang tidak tanam tapi ada potensi air, kita tanami," jelasnya.

Salah satu instrumen yang disiapkan adalah pemasangan pompa air agar lahan tidur bisa kembali produktif. Strategi ini ditujukan untuk menahan laju penurunan produksi di tengah tekanan iklim.

Produksi dan Ekspor Sawit Masih Menunjukkan Tren Naik

Di tengah kekhawatiran dampak El Nino, data ekspor kelapa sawit Indonesia justru memperlihatkan perbaikan. Amran mencatat ekspor CPO dan produk turunannya naik dari 26 juta ton menjadi 32 juta ton sepanjang tahun lalu, mencakup produk setengah jadi maupun yang diekspor langsung.

"Karena CPO kita tahun lalu kan meningkat kan dari ekspor 26 (juta ton) menjadi 32 juta ton. Dengan seluruhnya ya, yang sudah diolah setengah jadi dan yang diekspor langsung," katanya.

Peningkatan ini menjadi modal penting untuk menahan dampak penurunan produksi. Namun, tetap ada risiko pasokan yang perlu diwaspadai, terutama ketika kebutuhan domestik untuk program biodiesel B50 terus naik.

Proyeksi Penurunan dan Prioritas Pasokan Domestik

Gapki memperkirakan penurunan produksi sawit pada 2027 mencapai 3 juta ton, setelah sebelumnya memproyeksikan angka 4-5 juta ton.

Reporter: Saiful