SMPN 1 Tanah Merah Perkuat Kompetensi Guru Melalui Disiplin Positif, Wujudkan Sekolah Ramah Anak
INDRAGIRIONE.COM - SMPN 1 Tanah Merah Kecamatan Tanah Merah menggelar kegiatan penguatan kompetensi guru dalam penerapan disiplin positif pada Kamis (22/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di Laboratorium Multimedia tersebut bertujuan membekali para pendidik dengan pendekatan humanis, tanpa kekerasan, serta mampu membentuk karakter peserta didik berdasarkan kesadaran dan tanggung jawab.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Pengawas Pembina, Hj. Susi Tri Rahayu, S.Pd., M.Pd. Turut hadir Kepala SMPN 1 Tanah Merah, H. M. Syamsi, S.Pd bersama jajaran dewan guru.
H. M. Syamsi, S.Pd, menyampaikan bahwa penerapan disiplin positif merupakan langkah penting dalam mendukung pembentukan karakter peserta didik sekaligus meningkatkan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan. Menurutnya, guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga berperan dalam membimbing dan menanamkan nilai-nilai positif kepada siswa melalui pendekatan yang mendidik.

“Melalui kegiatan ini, para pendidik diharapkan mampu menerapkan pendekatan yang mendidik tanpa kekerasan, sehingga tercipta suasana kondusif yang mendukung tumbuh kembang siswa secara optimal,” ujarnya.
Dalam arahannya, Hj. Susi Tri Rahayu, S.Pd., M.Pd, menekankan bahwa keberhasilan penerapan disiplin positif harus dimulai dari keteladanan guru sebagai figur panutan di lingkungan sekolah.
“Disiplin lahir dari dalam diri, terutama guru yang menjadi panutan. Pelaksanaannya harus selaras dengan program SMPN 1 Tanah Merah sebagai Sekolah Ramah Anak,” tegasnya.

Pada sesi pemaparan materi, Devi Kurnia Pitra, S.Pd., M.Pd., menjelaskan empat pilar utama strategi penerapan disiplin positif di kelas. Strategi tersebut meliputi penyusunan kesepakatan kelas secara partisipatif, penciptaan lingkungan belajar yang aman secara psikologis, pemberian apresiasi berdasarkan proses, serta penguatan sinergi antara guru dan orang tua.
Ia juga menekankan pentingnya menangani permasalahan siswa secara personal dan humanis. Menurutnya, pendekatan yang mengedepankan komunikasi dua arah akan membuat anak merasa dihargai, didengarkan, dan mendapatkan bimbingan yang tepat.
“Hindari menyelesaikan permasalahan anak secara bersama-sama atau ‘keroyokan’. Utamakan komunikasi dua arah secara personal agar mereka merasa diayomi,” jelas Devi.

Kegiatan tidak hanya diisi dengan penyampaian teori, tetapi juga praktik melalui simulasi penerapan Segitiga Restitusi. Para guru diajak menghadapi skenario kontekstual, seperti menangani siswa yang sering terlambat datang ke sekolah. Melalui simulasi tersebut, para pendidik berlatih membangun komunikasi yang konstruktif, menggali penyebab perilaku siswa, serta membimbing mereka memahami kesalahan dan menemukan solusi yang bertanggung jawab.
Menutup pemaparan materi, Devi menegaskan bahwa disiplin positif bukan berarti membiarkan siswa melakukan kesalahan tanpa konsekuensi. Sebaliknya, pendekatan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran dari dalam diri agar siswa mampu membedakan tindakan yang tepat dan bertanggung jawab.
“Disiplin positif tidak sama dengan pembiaran. Pendekatan ini bertujuan menuntun siswa memilih tindakan yang benar atas dorongan kesadaran, bukan ketakutan. Dengan mengubah pola pikir dari mengendalikan siswa menjadi membangun kemitraan, kita tidak hanya menyelesaikan masalah saat ini, tetapi juga memupuk karakter mandiri untuk masa depan,” tutupnya.