Survei AP-NORC: Hanya 25% Warga AS Setujui Kinerja Ekonomi Trump
INDRAGIRIONE.COM — Sebanyak 25 persen orang dewasa Amerika Serikat menyatakan persetujuan atas cara Presiden Donald Trump menangani perekonomian, menurut survei Associated Press-NORC Center for Public Affairs Research. Angka itu muncul di tengah perebutan kendali Kongres pada pemilu sela, Selasa (3/11/2026), dengan biaya hidup sebagai keluhan utama pemilih.
Survei Associated Press-NORC Center for Public Affairs Research menempatkan persetujuan publik terhadap kinerja ekonomi Trump pada level 25 persen. Hasil itu dirilis saat pemilih AS menuju bilik suara untuk menentukan komposisi DPR dan Senat.
Dua isu mendominasi ketidakpuasan: biaya hidup yang membebani rumah tangga dan kemarahan atas perang dengan Iran yang tidak populer. Kombinasi keduanya dinilai AP sebagai ujian berat bagi Partai Republik yang berupaya mempertahankan mayoritas di House of Representatives dan Senat.
Biaya Hidup Jadi Titik Lemah Janji Kampanye
Keluhan warga menyorot kegagalan Trump memenuhi janji menekan kenaikan biaya hidup. Demokrat membaca celah itu sebagai peluang menggerakkan pendukung ke tempat pemungutan suara sekaligus menekan partisipasi pemilih Republik.
James Moore, pustakawan berusia 57 tahun di Raleigh, North Carolina, mengaku memilih Demokrat untuk menentang undang-undang Trump yang memuat pemotongan pajak besar-besaran dan pengurangan belanja pemerintah.
"Saya membayar pajak lebih besar. Saya membayar lebih mahal untuk layanan kesehatan. Saya membayar lebih mahal untuk semuanya," kata Moore, dikutip dari AP.
"Kita membutuhkan lebih banyak wakil di Kongres yang berani melawan Trump," ucapnya.
Trump: Inflasi Sudah Teratasi
Penilaian Trump berbeda jauh dari hasil survei. Dalam wawancara dengan Fox News Channel pada Selasa, ia menyatakan "semuanya berjalan baik" dan "inflasi sudah teratasi".
Klaim itu berbenturan dengan pengalaman pemilih seperti Moore, yang merasakan langsung kenaikan beban pajak dan biaya layanan kesehatan. Selisih antara narasi Gedung Putih dan kondisi dompet warga menjadi medan pertarungan utama kedua kubu di pekan pemungutan suara.
Apa Artinya bagi Pasar dan Pelaku Bisnis
Bagi pelaku pasar, hasil survei ini menjadi sinyal risiko politik yang perlu dicermati. Ketidakpuasan ekonomi biasanya berkorelasi dengan pergeseran suara, dan pergeseran kendali Kongres berpotensi mengubah arah kebijakan fiskal, termasuk nasib pemotongan pajak dan belanja pemerintah yang jadi sasaran keluhan Moore.
Investor yang memegang eksposur ke aset AS, dari obligasi hingga saham sektor konsumen, perlu memperhitungkan skenario kebuntuan legislatif jika Kongres terbelah. Ketidakpastian anggaran biasanya menekan sentimen pasar menjelang penetapan kebijakan baru.
Hasil akhir pemilu sela akan menentukan seberapa besar ruang manuver Trump dalam melanjutkan agenda ekonominya. Sampai itu terkonfirmasi, survei 25 persen menjadi ukuran awal seberapa mahal harga politik dari tekanan biaya hidup.