INDRAGIRIONE.COM — Bursa Efek Indonesia kembali menetapkan saham PT MD Entertainment Tbk. (FILM) sebagai saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tinggi alias High Shareholding Concentration (HSC). Penetapan ulang dilakukan setelah BEI dan KSEI menemukan bahwa penurunan konsentrasi kepemilikan yang sebelumnya diumumkan pada 12 Oktober 2026 terjadi lewat transaksi repo saham, bukan perubahan kepemilikan riil. Pengumuman ini menempatkan FILM kembali dalam radar investor yang memantau risiko likuiditas dan tata kelola emiten.
Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menemukan kembali kepemilikan terkonsentrasi tinggi pada saham PT MD Entertainment Tbk. (FILM). Temuan mengacu pada metodologi penentuan HSC yang menempatkan sejumlah pemegang saham tertentu menguasai 92,98% dari total saham perseroan per 14 Juli 2026.
Angka itu membuat FILM masuk kategori saham dengan konsentrasi kepemilikan ekstrem. Hampir seluruh saham beredar dikuasai segelintir pihak, menyisakan porsi kecil untuk publik.
Dari Pengumuman 12 Oktober ke Penetapan Ulang
Pada 12 Oktober 2026, BEI sempat mengumumkan bahwa FILM tidak lagi berada dalam kategori kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi. Dasar pengumuman saat itu adalah perseroan dinilai telah memenuhi kriteria kuantitatif yang ditetapkan bursa.
Penelaahan lanjutan BEI menemukan fakta berbeda. Penurunan kepemilikan yang menjadi dasar pengumuman 12 Oktober 2026 terjadi melalui transaksi repo saham. Transaksi itu berpotensi tidak mengakibatkan perubahan konsentrasi kepemilikan secara riil.
"Atas dasar tersebut, Bursa mengumumkan kembali FILM sebagai saham yang dikategorikan sebagai kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi," tulis manajemen BEI dalam keterbukaan informasi, Jumat (23/10/2026).
Repo Saham Jadi Titik Krusial
Repo saham atau repurchase agreement adalah transaksi pinjam-meminjam dana dengan saham sebagai agunan, disertai janji membeli kembali pada harga dan waktu yang disepakati. Dalam struktur ini, kepemilikan saham bisa berpindah secara administratif tanpa benar-benar mengubah kendali ekonomi atas saham tersebut.
Praktik itu yang membuat BEI mencabut status "lepas HSC" bagi FILM. Bursa menilai penurunan konsentrasi yang terlihat di data kepemilikan tidak mencerminkan perubahan nyata pada komposisi pemegang saham.
Bagi investor, status HSC menjadi penanda penting. Saham dengan konsentrasi kepemilikan sangat tinggi rawan mengalami pergerakan harga ekstrem karena jumlah saham yang diperdagangkan di pasar relatif tipis. Likuiditas menjadi lebih rentan, sementara harga mudah terdorong dengan volume transaksi kecil.
BEI: Status HSC Bukan Pelanggaran
BEI menegaskan pengumuman HSC tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku di bidang pasar modal. Kategori ini murni bersifat informatif, memberi peringatan dini kepada investor soal struktur kepemilikan emiten.
Meski demikian, penetapan ulang ini menjadi catatan tersendiri bagi FILM. Emiten yang dikendalikan MD Entertainment ini sebelumnya sempat keluar dari daftar HSC, lalu masuk kembali dalam hitungan pekan setelah bursa menelusuri jejak transaksi yang mendasarinya.
Apa Artinya bagi Pemegang Saham FILM
Investor yang memegang atau melirik saham FILM perlu mencermati dua hal. Pertama, porsi saham publik yang sangat kecil membatasi ruang terbentuknya harga secara wajar di pasar reguler. Kedua, potensi pergerakan harga mendadak akibat transaksi dalam jumlah terbatas tetap terbuka.
BEI dan KSEI secara berkala memperbarui daftar saham HSC sebagai bagian dari transparansi pasar. Pemegang saham dapat memantau keterbukaan informasi emiten untuk melihat setiap perubahan struktur kepemilikan yang material.
Hingga pengumuman terbaru, belum ada keterangan resmi dari manajemen MD Entertainment soal penetapan ulang status HSC ini. Bursa memastikan pengawasan terhadap pola transaksi saham FILM berlanjut sesuai ketentuan yang berlaku.