Pencarian

Danantara: Ekspor Nikel RI Tembus US$33 Miliar, Tapi Persaingan Makin Ketat

Kamis, 08 Oktober 2026 • 06:41:02 WIB
Danantara: Ekspor Nikel RI Tembus US$33 Miliar, Tapi Persaingan Makin Ketat
CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menyampaikan pernyataan mengenai capaian ekspor nikel nasional di Jakarta, Rabu (7/10/2026).

INDRAGIRIONE.COM — CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menyatakan ekspor nikel Indonesia melesat dari US$3,3 miliar pada 2016-2017 menjadi US$33 miliar pada 2025 berkat program hilirisasi. Lonjakan 10 kali lipat itu dinilai belum cukup, karena Indonesia kini bersaing ketat dengan negara tetangga untuk merebut investasi global.

Rosan Roeslani menyampaikan hal itu dalam pernyataannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026). Menurutnya, keberhasilan hilirisasi tidak boleh hanya diukur dari lonjakan angka ekspor semata.

Tujuan akhirnya jauh lebih besar, yakni membangun fondasi industri nasional yang kuat demi pertumbuhan jangka panjang. Rosan memposisikan hilirisasi sebagai mesin transformasi ekonomi, sementara investasi berperan sebagai mesin pertumbuhannya.

Dari US$3,3 Miliar ke US$33 Miliar

Sebelum program hilirisasi berjalan, ekspor nikel Indonesia pada 2016-2017 hanya sekitar US$3,3 miliar. Angka itu kemudian melesat 10 kali lipat menjadi US$33 miliar pada 2025.

Rosan menyebut lonjakan tersebut sebagai bukti nyata penciptaan nilai tambah di dalam negeri. "Dulu sebelum kita melakukan hilirisasi di bidang nikel, ekspor nikel kita di tahun 2016-2017 itu hanya 3,3 billion Dolar AS. Di tahun 2025 ini sudah mencapai 33 miliar Dolar AS. Jadi kenaikannya 10 kali lipat dari value added dan industrialisasi yang berjalan," katanya.

Meski capaian itu terbilang fantastis, Rosan mengingatkan agar Indonesia tidak berhenti di situ. Hilirisasi, menurut dia, punya tujuan yang lebih mendasar.

"Ujungnya hilirisasi itu apa? Ujungnya hilirisasi adalah industrialisasi. Kita meyakini apabila kita tidak punya industri yang kuat, Indonesia tidak akan punya pertumbuhan perekonomian yang berkesinambungan dan berkelanjutan," tegas Rosan.

Persaingan dengan Negara Tetangga Makin Panas

Rosan secara terbuka menyebut Indonesia sedang berada dalam persaingan ketat dengan negara-negara tetangga untuk merebut investasi global. Negara tetangga, kata dia, juga terus melakukan reformasi agar proses investasi lebih cepat, tepat, dan terukur.

Kondisi itu membuat perbaikan iklim investasi menjadi pekerjaan rumah terbesar pemerintah saat ini. Tanpa reformasi yang konsisten, momentum hilirisasi yang sudah menghasilkan US$33 miliar berisiko kehilangan daya saing.

"Kita harus memperbaiki, we have to keep reforming ourself in term of policy, in term of regulation. Karena pada saat yang sama kita competing with our neighboring countries," ujarnya.

Hilirisasi Tetap Jadi Prioritas

Danantara memastikan hilirisasi akan terus didorong dan diprioritaskan. Rosan berharap dampaknya ke depan bisa lebih besar dan lebih baik bagi perekonomian nasional.

"Hilirisasi ini terus kita akan dorong, kita akan terus prioritaskan sehingga dampaknya juga akan menjadi lebih besar dan lebih baik," pungkasnya.

Bagi Indonesia, pernyataan Danantara ini menegaskan bahwa hilirisasi bukan sekadar proyek jangka pendek demi mengerek angka ekspor. Nilai tambah yang tercipta dari pengolahan nikel di dalam negeri menjadi modal awal, sementara kemampuan menjaga iklim investasi akan menentukan apakah posisi RI tetap kuat di tengah kompetisi dengan negara tetangga.

Sumber: dunia-energi.com

Follow www.indragirione.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks