Bahlil Siapkan Formula Baru Penikmat BBM Subsidi, Cegah Shifting

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah sedang memformulasikan aturan baru kriteria pengguna BBM bersubsidi.
Penulis: Saiful
Kamis, 17 September 2026 | 08:41:01 WIB

INDRAGIRIONE.COM — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah sedang memformulasikan aturan baru untuk menentukan kriteria pengguna bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Aturan ini menyasar kelompok masyarakat mampu yang selama ini diduga beralih dari BBM non-subsidi ke BBM bersubsidi. Pemerintah juga mengimbau pemilik mobil bagus agar tidak menggunakan fasilitas subsidi yang diperuntukkan bagi warga kurang mampu.

"Ya memang kita lagi ada memformulasikan aturannya," kata Bahlil saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, dikutip Kamis (17/9/2026).

Bahlil menekankan bahwa kuota subsidi dialokasikan khusus bagi kelompok masyarakat kurang mampu yang benar-benar berhak menerimanya. Ia pun mengimbau kalangan mampu yang mengendarai mobil bagus agar bersikap bijak dan tidak menggunakan fasilitas BBM bersubsidi.

"Makanya dalam berbagai kesempatan kan saya menganjurkan agar saudara-saudara saya yang mampu, yang mobilnya bagus, tolonglah kita jangan sampai memakai BBM subsidi, karena itu kan BBM subsidi itu kan untuk saudara-saudara kita yang berhak menerimanya, ya," ujar Bahlil.

Lonjakan Konsumsi Pertalite Picu Antrean Panjang

Pergeseran konsumsi masyarakat menjadi salah satu pemicu antrean panjang kendaraan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), seperti yang sempat terjadi di wilayah Sulawesi Selatan. Bahlil menduga ada pihak-pihak tertentu yang mengantre di pompa bensin dengan maksud lain.

"Kemudian yang terjadi di Sulawesi Selatan kemarin, itu memang terjadi antrean panjang karena banyak faktor. Salah satu di antaranya adalah ada memang pihak-pihak, kan teman-teman media kan udah punya data, ngantre di pompa bensin hanya untuk... ya ada maksud lain lah kira-kira begitu. Dan alat buktinya kan udah banyak, ya," bebernya.

Meski demikian, Bahlil memastikan ketahanan cadangan stok BBM nasional berada dalam posisi aman di kisaran 18 hingga 20 hari. "BBM itu kan secara cadangan stok nasional kita kan dalam batas minimal nasional, 18 sampai 20 hari," tandasnya.

Konsumsi Pertalite Melonjak Sejak Juni 2026

Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mencatat konsumsi BBM bersubsidi jenis Pertalite mengalami lonjakan, terutama ketika harga BBM non-subsidi khususnya Pertamax naik. Kepala BPH Migas Wahyudi Anas menyebut pergerakan konsumsi Pertalite menunjukkan perubahan pola konsumsi masyarakat yang mengikuti pergerakan harga BBM non-subsidi.

"Grafik atas ini menunjukkan adanya pergerakan harga BBM khususnya RON 90 ini Pertalite, ini konsumsinya cukup lumayan naik pasca adanya kenaikan harga BBM non-subsidi, baik itu Pertamax maupun Pertamax Turbo," jelas Wahyudi dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (26/8/2026).

Menurut Wahyudi, faktor utama peningkatan konsumsi adalah disparitas harga yang semakin lebar antara BBM non-subsidi dan Pertalite. Kondisi itu membuat sebagian masyarakat beralih dari BBM non-subsidi ke BBM subsidi.

"Faktor yang menyebabkan peningkatan adalah pertama pastinya ini disparitas harga semakin lebar," ujarnya.

Rata-Rata Konsumsi Harian Pertalite Naik 12,92 Persen

Berdasarkan bahan paparan BPH Migas, rata-rata konsumsi harian Pertalite mencapai 82.760 kilo liter (kl) pada Juni 2026. Angka itu melonjak 6.965 kl atau 9,19 persen dibanding rata-rata konsumsi harian normal 75.795 kl sebelum kenaikan harga Pertamax pada 10 Juni 2026.

Pada Juli 2026, konsumsi rata-rata harian Pertalite naik lagi menjadi 85.589 kl atau melonjak 12,92 persen dibanding hari normal. Memasuki Agustus 2026, konsumsi harian Pertalite turun tipis menjadi 84.368 kl seiring penurunan harga Pertamax per 1 Agustus 2026.

Kendati turun, angka tersebut tetap naik 8.573 kl atau 11,31 persen dibanding rata-rata konsumsi hari normal sebelum harga Pertamax naik pada 10 Juni 2026.

"Sementara pada bulan periode Agustus hingga saat ini agak sedikit menurun karena harga (Pertamax) juga ada terkoreksi semula Rp 16.250 (per liter) menjadi Rp 15.950 mengalami penurunan, sehingga konsumsinya untuk Pertamax juga turun," kata Wahyudi.

Dampak bagi Konsumen dan Pengawasan ke Depan

Wahyudi menambahkan, ketika harga Pertamax turun, konsumsi Pertalite juga terpantau menurun. Namun disparitas harga dengan BBM subsidi masih cukup tinggi, sehingga konsumsi Pertalite tetap di atas rata-rata harian normal.

"Walaupun di akhir bulan Agustus ini harga untuk kategori Pertamax, seperti Pertamax, dan Pertamina Dex termasuk untuk Dex series itu terjadi penurunan, namun disparitas harganya ini masih cukup lebar, cukup tinggi, dan masyarakat banyak melakukan shifting penggunanya kepada BBM subsidi dan kompensasi negara," kata dia.

Hingga kini, pemerintah belum mengumumkan detail formula baru, termasuk kriteria resmi, mekanisme pendataan, maupun jadwal penerapannya. Informasi lebih lanjut mengenai aturan pengguna BBM bersubsidi dapat diakses melalui kanal resmi Kementerian ESDM dan BPH Migas.

Masyarakat diimbau tidak mempercayai pihak yang menawarkan jasa pengurusan atau pendaftaran penerima BBM bersubsidi dengan imbalan uang. Pengaduan terkait penyaluran BBM subsidi dapat disampaikan melalui kanal resmi Pertamina maupun BPH Migas.

Reporter: Saiful