Harga Emas Turun 0,32% ke USD4.273,80, Terendah Sepekan akibat Minyak Naik dan The Fed Hawkish

Harga emas spot melemah 0,32 persen ke USD4.273,80 per troy ons pada perdagangan Kamis (24/9/2026).
Penulis: Sutomo
Jumat, 25 September 2026 | 07:01:32 WIB

INDRAGIRIONE.COM — Harga emas spot melemah 0,32 persen ke USD4.273,80 per troy ons pada perdagangan Kamis (24/9/2026), menyentuh level terendah sejak 16 September 2026. Kenaikan harga minyak dan sikap hawkish The Fed memperkuat ekspektasi suku bunga lebih tinggi, menekan permintaan logam mulia.

Tekanan jual pada emas berlanjut setelah harga energi melonjak dan pasar mencermati pergeseran nada kebijakan bank sentral Amerika Serikat. Menurut data perdagangan yang dikutip Reuters, emas spot sempat menyentuh titik terendahnya dalam sepekan sebelum bertahan di kisaran USD4.273,80 per troy ons.

Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, menyebut dua faktor utama yang membebani emas saat ini. Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi baru, sementara The Fed dinilai semakin hawkish dalam menjaga suku bunga tinggi.

"Emas terus terbebani oleh kenaikan harga energi serta suku bunga yang lebih tinggi. Dengan kenaikan harga energi, kekhawatiran terhadap inflasi semakin besar dan peluang kenaikan suku bunga tambahan oleh The Fed juga meningkat," kata Meger, seperti dikutip Reuters.

Mengapa Harga Minyak dan The Fed Menekan Emas

Emas dan minyak memiliki hubungan tidak langsung yang sering memengaruhi sentimen pasar komoditas. Ketika harga minyak naik, biaya energi dan transportasi ikut terdorong, yang pada gilirannya memperbesar risiko inflasi. Dalam kondisi seperti ini, bank sentral cenderung mempertahankan atau menaikkan suku bunga untuk meredam tekanan harga.

Suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan imbal hasil aset berbunga seperti obligasi dan deposito, sehingga membuat emas yang tidak memberikan yield menjadi kurang menarik bagi investor. Inilah yang membuat posisi emas rentan terhadap perubahan ekspektasi kebijakan moneter The Fed.

Sikap hawkish The Fed juga memperkuat indeks dolar AS. Ketika dolar menguat, harga emas yang dihargai dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga permintaan global berpotensi menurun.

Posisi Emas di Tengah Ketidakpastian Global

Meski tertekan dalam jangka pendek, emas masih menjadi aset lindung nilai yang dicari investor ketika ketidakpastian geopolitik dan ekonomi meningkat. Namun, dalam beberapa sesi terakhir, faktor suku bunga dan energi lebih dominan menentukan arah harga.

Level terendah sepekan yang dicapai emas menunjukkan pasar sedang menyeimbangkan kembali ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS. Pelaku pasar akan mencermati data inflasi dan pernyataan pejabat The Fed berikutnya untuk mengukur arah suku bunga.

Bagi investor Indonesia, pergerakan emas global ini turut memengaruhi harga emas domestik, termasuk produk emas batangan dan perhiasan yang dipasarkan di dalam negeri. Pelemahan emas dunia biasanya diikuti koreksi harga emas lokal, meski kurs rupiah terhadap dolar AS juga menjadi variabel penting.

Yang Perlu Dicermati Investor Selanjutnya

  • Rilis data inflasi AS menjadi kunci untuk mengukur arah suku bunga The Fed berikutnya.
  • Pergerakan harga minyak dunia memengaruhi ekspektasi inflasi dan permintaan emas.
  • Penguatan atau pelemahan dolar AS berdampak langsung pada daya tarik emas bagi investor global.
  • Harga emas domestik di Indonesia dipengaruhi kombinasi harga global dan nilai tukar rupiah.

Dengan tekanan dari sisi energi dan kebijakan moneter yang belum mereda, emas berpotensi bergerak volatil dalam jangka pendek. Investor yang memegang emas sebagai aset lindung nilai perlu mencermati perkembangan data ekonomi AS dan dinamika harga minyak sebelum mengambil keputusan lebih lanjut.

Reporter: Sutomo