Pencarian

Airlangga: Ekonomi Hijau Serap 5,3 Juta Pekerja pada 2029, Sumbang 2,3% ke PDB

Rabu, 30 September 2026 • 06:01:31 WIB
Airlangga: Ekonomi Hijau Serap 5,3 Juta Pekerja pada 2029, Sumbang 2,3% ke PDB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan proyeksi ekonomi hijau pada Seminar Nasional Green Economy 2045 di Jakarta, Selasa (29/9).

INDRAGIRIONE.COM — Ekonomi hijau Indonesia diproyeksikan menyerap 5,3 juta tenaga kerja pada 2029 dan menyumbang hingga 2,3 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Proyeksi itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Seminar Nasional Green Economy 2045 di Jakarta, Selasa (29/9). Realisasinya bergantung pada masifnya pengembangan energi hijau, masuknya investasi, dan pengerjaan proyek di dalam negeri.

Pemerintah menargetkan sektor ekonomi hijau menjadi salah satu motor penciptaan lapangan kerja baru dalam lima tahun ke depan. Airlangga menyebut kebutuhan tenaga kerja di sektor ini akan meningkat seiring pengembangan energi hijau di Tanah Air, dengan jenis keterampilan yang berbeda dari sektor konvensional.

"Tenaga kerja ini di tahun 2029 diperkirakan di sektor ini bisa bekerja 5,3 juta orang," kata Airlangga dalam seminar tersebut.

Kontribusi ke Pertumbuhan Ekonomi Capai 2,3 Persen

Selain menyerap tenaga kerja, ekonomi hijau berpotensi memberi tambahan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi hingga 2,3 persen. Angka itu disebut Airlangga sebagai potensi yang bisa terealisasi bila pengembangan dilakukan secara masif.

"Kalau 5,3 juta orang bisa bekerja di sektor ini betul bisa berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sampai 2,3 persen," ujarnya.

Airlangga membandingkan dengan kondisi saat ini. Tanpa pengembangan energi hijau secara masif, ekonomi Indonesia sudah tumbuh 5,45 persen. Dengan investasi yang masuk dan dikerjakan di dalam negeri, tambahan 2,3 persen itu dinilai bisa tercapai.

"Kalau sekarang tanpa energi hijau ini secara masif kita sudah tumbuh 5,45 persen. Maka kalau ini bekerja secara masif, investasinya masuk dan dikerjakan di dalam negeri maka 2,3 persen pertumbuhan bisa terjadi," tuturnya.

Energi Jadi Penggerak Utama, Digital di Hilir

Menurut Airlangga, ekonomi hijau di Indonesia terutama akan digerakkan oleh sektor energi. Sektor digital nantinya berperan sebagai penggerak hilir.

"Ekonomi hijau utamanya di energi. Yang kedua tentu penggerak hilirnya nanti di sektor digital," ujar Airlangga.

Peta itu menempatkan energi sebagai hulu rantai nilai, sementara digital menjadi kanal distribusi dan layanan yang menyertai transisi. Kombinasi keduanya diharapkan memperluas serapan tenaga kerja, tidak hanya di pembangkit dan proyek infrastruktur, tetapi juga di layanan berbasis teknologi.

Tantangan Teknologi dan Waktu Pembangunan

Di balik proyeksi itu, Airlangga mengakui pengembangan ekonomi hijau masih menghadapi sejumlah ganjalan. Salah satunya berkaitan dengan teknologi yang dibutuhkan untuk mendukung transisi energi.

Hambatan lain adalah waktu pembangunan. Proyek energi hijau seperti geothermal dan hydro power membutuhkan waktu sekitar lima hingga tujuh tahun sebelum bisa beroperasi. Rentang waktu itu membuat realisasi target tenaga kerja 2029 bergantung pada keputusan investasi yang diambil dalam waktu dekat.

Bagi pelaku usaha, sinyal ini membuka peluang di rantai pasok energi terbarukan dan layanan digital pendukung. Namun skala serapan tenaga kerja dan kontribusi 2,3 persen ke pertumbuhan baru akan terlihat jika proyek-proyek energi hijau masuk tahap konstruksi sesuai jadwal, bukan sekadar berhenti di tahap perencanaan.

Sumber: cnnindonesia.com

Follow www.indragirione.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks