INDRAGIRIONE.COM — Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,47% secara tahunan pada kuartal III-2026, capaian agregat yang lahir saat sebagian masyarakat mengaku kesulitan. BPS menilai keluhan itu muncul karena pertumbuhan tidak merata antar sektor, bukan karena ekonomi nasional melambat.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Edy Mahmud, menyatakan angka 5,47% merupakan potret pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) secara agregat, baik dari lapangan usaha maupun pengeluaran. Menurut dia, warga yang merasa ekonominya tidak tumbuh kemungkinan besar bekerja di sektor yang laju pertumbuhannya rendah.
"Bisa saja orang-orang yang tidak merasa tumbuh itu memang tidak berada pada sektor-sektor yang tumbuhnya cukup tinggi, jadi tidak merasakan bahwa memang betul tumbuh," ujar Edy dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Empat Sektor Penyumbang Terbesar PDB Kuartal III-2026
Dari sisi lapangan usaha, BPS mencatat empat sektor utama yang memberikan peranan terbesar terhadap pertumbuhan PDB kuartal III-2026. Industri pengolahan memimpin dengan kontribusi 1,20%, disusul perdagangan 0,94%, konstruksi 0,62%, serta informasi dan komunikasi 0,49%.
Edy menjelaskan, dalam industri saja terdapat 17 kategori lapangan usaha dan 52 subkategori. Karena itu, kelompok pekerja di sektor dengan pertumbuhan tipis secara statistik tetap masuk hitungan PDB, meski pengalaman ekonominya berbeda dari sektor yang tumbuh cepat.
"Setiap dari kita kadang-kadang merasakan hanya apa yang kita rasakan, tetapi tidak merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain," tambahnya.
Konsumsi Rumah Tangga Masih Jadi Motor Utama
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tetap menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan 5,04% secara tahunan. Komponen ini menyumbang sumber pertumbuhan tertinggi, yakni 2,62%.
Kinerja konsumsi rumah tangga ditopang kenaikan nilai transaksi barang dan jasa secara online, peningkatan mobilitas masyarakat, aktivitas pariwisata, serta berbagai kebijakan pemerintah dalam pengendalian inflasi.
Komponen lain yang menopang pertumbuhan adalah Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh 6,06% secara tahunan. Angka itu mencerminkan pertumbuhan investasi, baik yang dilakukan pemerintah maupun swasta.
Belanja Pemerintah Melonjak 8,95%
Konsumsi pemerintah tumbuh 8,95%, jauh di atas pertumbuhan pada triwulan yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,66%. Lonjakan itu sejalan dengan meningkatnya realisasi belanja pegawai, terutama gaji dan tunjangan ASN.
Realisasi belanja barang dan jasa juga naik, utamanya belanja barang yang diserahkan kepada masyarakat berupa program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Mengapa Keluhan Warga Tetap Muncul
Edy mengakui, di antara 280 juta penduduk Indonesia, pasti masih ada yang mengalami tekanan ekonomi. Ia menilai apa yang ramai dibicarakan di media sosial sering kali merupakan kejadian pada kelompok atau wilayah tertentu, sementara BPS memotret data secara keseluruhan.
"Tentunya di antara 280 juta penduduk Indonesia, pasti masih ada yang mengalami tekanan ekonomi. Untuk mengetahui lebih detail, diperlukan analisis dengan data yang lebih spesifik lagi," imbuhnya.
Bagi pelaku pasar, angka 5,47% menjadi sinyal bahwa mesin konsumsi domestik belum kehilangan tenaga. Namun komposisi pertumbuhan yang terkonsentrasi di empat sektor besar menjelaskan mengapa sentimen di lapangan bisa berbeda dari headline statistik.