INDRAGIRIONE.COM — Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo membantah narasi publik yang menyebut daya beli masyarakat melemah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi masyarakat selama semester I 2026 masih tumbuh konsisten di atas 5 persen. Dradjad menilai yang terjadi bukan pelemahan daya beli, melainkan pergeseran pola konsumsi yang signifikan ke sektor gaya hidup dan mobilitas.
Dradjad menyampaikan pernyataan itu dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta Pusat, Senin (12/10). Ia menegaskan data BPS tidak mendukung narasi pelemahan daya beli yang ramai dibicarakan publik.
"Data BPS menunjukkan yang benar adalah daya beli itu tetap kuat, tetap robust, tetap solid. Kami bukan membantah, tapi kami menunjukkan bahwa berdasarkan data BPS tidak benar daya beli melemah," ujar Dradjad.
Transaksi QRIS dan Sektor Pariwisata Jadi Bukti
Dradjad menjelaskan indikator tetap terjaganya daya beli terlihat dari lonjakan transaksi ekonomi di sektor-sektor tertentu. Masyarakat saat ini lebih banyak mengalokasikan uangnya untuk gaya hidup dan mobilitas.
"Bukti yang pertama itu misalnya adalah pertumbuhan di transportasi dan pertumbuhan yang terkait pariwisata. Transportasi itu tinggi sekali karena masyarakat kita rupanya sekarang banyak yang senang jalan-jalan, dan konsumsi jalan-jalan itu tinggi sekali naiknya. Restoran dan hotel juga," terangnya.
Selain sektor transportasi dan pariwisata, Dradjad menyoroti lonjakan tajam transaksi digital sebagai bukti tingginya aktivitas belanja masyarakat di marketplace maupun platform online.
"Kemudian bukti berikutnya itu transaksi QRIS yang peningkatannya sampai di atas 100 persen. Kalau transaksi QRIS meningkat drastis, itu kan artinya memang banyak transaksi, banyak konsumsi. Jadi yang terjadi itu bukan daya beli melemah, tapi pergeseran pola konsumsi masyarakat yang sangat signifikan," jelas Dradjad.
BPS: Konsumsi Semester I 2026 Tumbuh di Atas 5 Persen
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menambahkan, pihaknya mencatat konsumsi masyarakat selama semester I 2026 masih tumbuh konsisten di atas 5 persen.
"Daya beli masyarakat di Indonesia ini berdasarkan catatan BPS itu memang masih kuat karena selama satu semester itu masih tumbuh di atas 5 persen konsumsi masyarakat. Dan yang tadi yang terlihat oleh rekaman data kami adalah pergeseran pola konsumsi masyarakat karena dipengaruhi oleh gaya hidup yang berbeda," ujar Amalia.
Secara rinci, Amalia menyebut pertumbuhan konsumsi masyarakat saat ini didominasi oleh sektor yang menunjang gaya hidup baru. Transportasi, restoran, serta hotel tercatat mampu tumbuh di atas 6 persen.
Pergeseran Pola Konsumsi dan Implikasinya bagi Pelaku Usaha
Data BPS dan penjelasan kedua pejabat itu menunjukkan pola belanja masyarakat bergeser dari kebutuhan dasar ke pengeluaran yang sifatnya pengalaman dan mobilitas. Bagi pelaku usaha di sektor transportasi, akomodasi, kuliner, dan perdagangan digital, pergeseran ini membuka peluang permintaan yang berbeda dari pola konsumsi sebelumnya.
Di sisi lain, sektor yang mengandalkan belanja kebutuhan pokok perlu mencermati perubahan ini. Alokasi anggaran rumah tangga yang bergeser ke gaya hidup dan mobilitas berpotensi mengubah komposisi penjualan di berbagai lini usaha, terutama di kota-kota besar dengan mobilitas tinggi.
Pemerintah melalui data BPS memilih menekankan pertumbuhan konsumsi agregat yang masih di atas 5 persen sebagai indikator utama. Angka itu menjadi acuan dalam menilai kesehatan permintaan domestik di tengah tekanan eksternal yang masih membayangi perekonomian.