Kerja Sama Pertahanan Indonesia-China Berlanjut, Menhan Sjafrie Dorong Transfer Teknologi untuk Pabrik Amunisi dan Roket

Menhan Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan kerja sama industri pertahanan Indonesia-China berlanjut dengan fokus transfer teknologi untuk pabrik amunisi, misil, dan roket.
Penulis: Yasir
Jumat, 21 Agustus 2026 | 18:23:31 WIB

Jakarta – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pertahanan (Kemhan) memastikan kerja sama di bidang industri pertahanan dengan China akan terus dilanjutkan, dengan fokus utama pada pembangunan pabrik bersama dan alih teknologi. Hal ini ditegaskan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dalam konferensi pers usai Pertemuan 2+2 Indonesia-China di Kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Jumat (21/8).

Pertemuan tersebut merupakan forum dialog bilateral tingkat tinggi yang kedua kalinya, setelah sebelumnya digelar di Beijing pada 21 April 2025. Agenda ini menjadi bukti nyata bahwa hubungan kedua negara tidak hanya berhenti pada tataran diplomatik, tetapi juga menyentuh sektor strategis pertahanan.

Fokus Kerja Sama: Pabrik Amunisi Hingga Roket

Menhan Sjafrie memaparkan bahwa kerja sama yang tengah berjalan saat ini mencakup produksi amunisi, misil, dan roket. Proyek ini merupakan kelanjutan dari kesepakatan yang telah dirintis sebelumnya oleh kedua negara.

"Yang kita sudah lakukan adalah kita akan kerja sama di dalam pabrik amunisi. Kita akan kerja sama dengan misil, roket dan sebagainya," jelas Sjafrie dalam keterangannya.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa China berkomitmen untuk mengirimkan transfer teknologi guna mendukung pembangunan pabrik bersama di Indonesia. Langkah ini dinilai krusial agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi mampu mengembangkan teknologi militernya sendiri.

"Ini yang kita lakukan industri pertahanan. Jadi yang saya angkat adalah bagaimana RRT bisa melakukan transfer teknologi terhadap Indonesia yang juga ingin mengembangkan teknologi militer yang serupa dengan apa yang sudah dilaksanakan oleh RRT," tandasnya.

Target Operasional Pabrik Bersama pada 2027

Menteri Pertahanan menambahkan, proyek pengembangan bersama atau joint development ini ditargetkan dapat berjalan pada tahun 2027. Target waktu ini menjadi penting untuk memastikan realisasi kerja sama tidak hanya sebatas nota kesepahaman di atas kertas, tetapi benar-benar beroperasi di lapangan.

Dengan adanya target yang jelas, pemerintah optimistis industri pertahanan dalam negeri akan semakin kuat. Keberadaan pabrik bersama ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan alutsista TNI secara mandiri dan mengurangi ketergantungan pada impor.

Kendati demikian, detail lebih lanjut mengenai skema investasi, lokasi pabrik, dan jenis teknologi yang akan dialihkan belum diumumkan secara resmi. Masyarakat dapat memantau perkembangan informasi ini melalui kanal resmi Kementerian Pertahanan dan Kementerian Luar Negeri.

Penting untuk dipahami bahwa kerja sama ini merupakan bagian dari kebijakan luar negeri dan pertahanan jangka panjang. Keberhasilannya akan bergantung pada negosiasi teknis dan komitmen kedua negara dalam implementasi di lapangan.

Reporter: Yasir