PTDI Godok Ambulans Terbang, NC212 Jadi Kandidat Utama

PTDI mengkaji pengembangan ambulans terbang dengan pesawat NC212 sebagai kandidat utama.
Penulis: Sutomo
Minggu, 20 September 2026 | 06:41:31 WIB

INDRAGIRIONE.COM — PT Dirgantara Indonesia (Persero) tengah mengkaji pembuatan ambulans terbang dengan pesawat NC212 sebagai kandidat utama. Kajian ini menyusul instruksi Presiden Prabowo Subianto agar pemerintah menyediakan layanan evakuasi medis udara bagi warga di daerah terpencil. Jika terealisasi, pesawat ini bisa mempercepat pertolongan bagi pasien yang selama ini harus menempuh perjalanan 7–9 jam menuju fasilitas kesehatan.

Jakarta — PT Dirgantara Indonesia (Persero) atau PTDI membuka peluang mengembangkan ambulans terbang sebagai bagian dari layanan evakuasi medis udara. VP Business Development & Marketing PTDI Heber M. F Panjaitan menyatakan pengembangan ini masih berada di tahap pengkajian. Pihaknya menilai pesawat NC212 punya karakteristik yang cocok untuk misi tersebut.

"Kita juga sedang explore untuk ambulans terbang. Jadi kita melihat platform NC212 ini cukup fleksibel untuk digunakan sebagai ambulans terbang, karena loading-unloading untuk orang sakit itu lebih mudah," ujar Heber kepada detikcom dalam acara TNI Fair di Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Sabtu (19/9/2026).

Kemudahan bongkar-muat pasien menjadi pertimbangan utama. Dalam kondisi darurat, proses evakuasi yang cepat menentukan keselamatan nyawa.

Terbuka untuk Kolaborasi dengan BRIN dan Pihak Lain

PTDI tidak menutup diri bekerja sama dengan lembaga lain untuk merealisasikan ambulans terbang. Heber menyebut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai salah satu calon mitra. Selain NC212, ada dua platform lain yang dipertimbangkan, yakni N219 dan RM200.

"Ini bisa kita kerja samakan dengan BRIN atau pihak-pihak lain. Jadi platformnya bisa 212, bisa N219, bisa juga RM200," terangnya.

Pilihan platform tersebut menunjukkan PTDI ingin menyesuaikan jenis pesawat dengan medan operasi. Wilayah kepulauan dan daerah pedalaman punya karakteristik pendaratan yang berbeda-beda.

Berawal dari Instruksi Prabowo

Gagasan ambulans terbang pertama kali disampaikan Presiden Prabowo Subianto saat memberikan Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN 2027 beserta Nota Keuangan di Kompleks Parlemen, Jakarta, 14 Agustus 2026. Kepala negara menyoroti masih adanya warga yang kesulitan mengakses layanan kesehatan.

"Negara harus hadir sedekat mungkin dengan rakyat, untuk itu kita akan buat ambulans udara dengan heli dan pesawat kecil yang bisa mendarat di lapangan-lapangan rumput, pasir, sungai, supaya tidak ada rakyat kita yang tidak bisa tidak dievakuasi ketika dia sakit," kata Prabowo.

Prabowo menyebut sejumlah warga harus menempuh perjalanan 7–9 jam untuk sampai ke fasilitas kesehatan. Kondisi itu juga menyulitkan ibu yang hendak melahirkan mendapatkan pertolongan medis.

"Untuk itu kita harus cari terobosan, salah satu jalan ada ambulans udara, bahkan nanti juga tim dokter terbang," ujarnya.

BRIN Matangkan N219 dan Varian Amfibi

BRIN merespons gagasan tersebut dengan menyiapkan ekosistem pesawat N219 dan varian amfibinya, N219A. Kepala BRIN Arif Satria mengatakan N219 dikembangkan bersama PTDI dan memiliki kemampuan Short Take-Off and Landing (STOL). Kemampuan itu memungkinkan pesawat beroperasi dari landasan yang relatif pendek.

N219A dikembangkan sebagai varian amfibi yang dapat beroperasi di wilayah perairan. Kedua varian ini diproyeksikan mendukung evakuasi medis, terutama bagi masyarakat di wilayah kepulauan dan daerah yang sulit dijangkau lewat jalur darat.

Kolaborasi PTDI dan BRIN menempatkan industri dirgantara dalam negeri sebagai tulang punggung program ini. PTDI sudah berpengalaman memproduksi pesawat NC212 dan N219, sementara BRIN menyiapkan sisi riset dan pengembangan ekosistemnya.

Jika berjalan sesuai rencana, ambulans terbang bisa menjadi terobosan layanan kesehatan di daerah terpencil. Program ini juga membuka peluang bagi industri penerbangan nasional untuk memperluas pemanfaatan pesawat produksi dalam negeri di sektor non-komersial.

Reporter: Sutomo