Purbaya: APBN Aman Hadapi Minyak US$100, Defisit Baru 0,91 Persen
INDRAGIRIONE.COM — Pernyataan itu disampaikan Purbaya usai menemui awak media di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Kamis (10/9). Ia menegaskan perhitungan fiskal pemerintah sudah mengasumsikan harga minyak di level US$100 per barel sejak awal penyusunan anggaran.
Asumsi US$100 Sudah Masuk Hitungan Defisit 2,85 Persen
Dalam asumsi makro yang dipakai pemerintah, defisit APBN dipatok 2,85 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dengan harga minyak US$100 per barel. Purbaya menyebut rata-rata harga minyak yang dibayar untuk kebutuhan asumsi APBN saat ini masih di bawah US$90 per barel.
"Dengan asumsi pada waktu itu kan 2,85 persen itu asumsi US$100 per barel. Walaupun diturunkan sedikit, kan rata-rata sekarang masih di bawah US$90 kalau tidak salah harga minyak dunianya yang kita bayar untuk asumsi APBN. Jadi, masih ada ruang," ujar Purbaya.
Pemerintah juga menahan diri dari rencana menambah kuota subsidi energi. Menurut Purbaya, langkah itu belum diperlukan selama harga minyak masih dalam rentang yang bisa diserap anggaran.
"Belum (ada rencana menambah kuota subsidi). Kita harus pantau terus perkembangannya. Jangan sampai naik lebih tinggi lagi," katanya.
Defisit Fiskal Masih Jauh dari Batas 3 Persen
Posisi fiskal pemerintah saat ini tergolong longgar. Defisit APBN hingga Juli-Agustus tercatat di bawah 1 persen, dengan angka terbaru 0,91 persen terhadap PDB.
"Sekarang saja defisitnya baru 0,91 persen. Juli-Agustus 0,95 lah, enggak naik banyak," ujar Purbaya.
Ruang fiskal itu membuat pemerintah percaya diri menghadapi tekanan harga minyak tanpa perlu me