Bahlil Lahadalia Incar PNBP ESDM Rp165 Triliun pada 2026

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menargetkan PNBP sektor ESDM mencapai Rp165 triliun pada 2026.
Penulis: Yasir
Sabtu, 24 Oktober 2026 | 07:41:01 WIB

INDRAGIRIONE.COM — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menargetkan penerimaan negara bukan pajak sektor ESDM menembus Rp165 triliun pada 2026. Angka itu sekitar Rp29 triliun di atas target APBN 2026 yang dipatok Rp136,18 triliun. Target tinggi ini dikejar lewat penguatan penerimaan, hilirisasi, dan optimalisasi sektor energi.

"Saya menargetkan PNBP kita, dari target Rp137 triliun, harus bisa mencapai Rp165 triliun," ujar Bahlil dalam keterangan yang diterima Antara di Jakarta, Jumat.

Selisih sekitar Rp29 triliun itu bukan tanpa alasan. Hingga September 2026, PNBP sektor ESDM sudah terkumpul Rp127,71 triliun atau 93,78 persen dari target APBN. Artinya, dengan tiga bulan tersisa, ruang untuk melampaui target masih terbuka lebar.

Modal dari Kinerja 2025

Pijakan target 2026 sebenarnya datang dari capaian tahun sebelumnya. Pada 2025, PNBP Kementerian ESDM mencapai Rp138,4 triliun, atau 108,56 persen dari target Rp127,49 triliun. Realisasi itu menjadi bukti bahwa sektor ini mampu melampaui perencanaan anggaran.

Bahlil menyoroti penerimaan negara yang tetap terjaga meski pemerintah sengaja menahan laju produksi batu bara. Produksi batu bara 2026 ditata lebih rendah dibanding 2025 yang tercatat lebih dari 800 juta ton.

Meski volume produksi ditekan, PNBP sumber daya alam dari batu bara tetap mengalir. Hingga September 2026, kontribusinya sudah mencapai 92,02 persen dari target APBN.

Lifting Minyak dan Smelter Jadi Penopang

Sektor hulu minyak dan gas bumi turut menopang penerimaan negara. Pada 2025, produksi siap jual (lifting) minyak mencapai sekitar 605,9 ribu barel per hari dan melampaui target. Pencapaian itu menjadi yang pertama dalam sepuluh tahun terakhir, sekaligus membalikkan tren penurunan produksi yang berlangsung selama satu dekade.

Dari sisi hilir, lima dari 14 fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) terintegrasi telah selesai dibangun dengan nilai investasi 7,8 miliar dolar AS. Pemerintah selanjutnya mendorong pengembangan industri prekursor, katoda, hingga baterai agar nilai tambah sumber daya mineral dinikmati di dalam negeri.

Bahlil ingin menjadikan nikel Indonesia sebagai bagian penting dari rantai pasok industri hijau dunia melalui pembangunan fasilitas industri di dalam negeri. Namun ia menegaskan, kegiatan pertambangan tetap harus memenuhi kewajiban pemenuhan kebutuhan dalam negeri, reklamasi lahan, dan keselamatan kerja.

Investasi dan Arahan ke Jajaran

Secara keseluruhan, investasi sektor ESDM pada 2025 mencapai 31,97 miliar dolar AS. Bagi Bahlil, angka itu bukan tujuan akhir.

"Capaian ini adalah fondasi, bukan garis akhir," ujarnya.

Untuk mengejar target PNBP, Bahlil meminta seluruh jajaran sektor ESDM bekerja dengan jujur, berani mengambil keputusan, dan menuntaskan setiap target yang ditetapkan. Ia mengingatkan agar program tidak berhenti pada perencanaan atau pencapaian administratif, tetapi diwujudkan melalui hasil nyata.

Bagi pasar dan pelaku industri, target Rp165 triliun menjadi sinyal bahwa pemerintah akan terus mendorong hilirisasi mineral dan optimalisasi penerimaan di tengah kebijakan pengendalian produksi batu bara. Jika realisasi September yang sudah 93,78 persen berhasil dijaga hingga Desember, peluang melampaui target APBN 2026 terbuka, meski mengejar angka Rp165 triliun tetap menuntut kerja keras di tiga bulan terakhir.

Reporter: Yasir