• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Karimun
    • Karimun
  • Lifestyle
  • Fokus Inhil
  • Peristiwa
  • Riau
    • Meranti
    • Kuansing
    • Inhil
    • Inhu
    • Rohil
    • Rohul
    • Dumai
    • Bengkalis
    • Siak
    • Pelalawan
    • Kampar
    • Pekanbaru
  • Parlemen
  • Politik
  • Hukrim
  • Ekonomi
  • Desa
  • More
    • Mitra TNI
    • Mitra Polri
    • Advertorial
    • Nasional
    • Dunia
    • Opini
    • Sosbud
    • Video
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • #Galeri
  • Indeks

Pilihan

  • +
Kantor Imigrasi Karimun, Gelar Sosialisasi TPPO Ke Masyarakat Desa Pangke.
Dibaca : 197 Kali
Imigrasi Karimun Gelar Sosialisasi Pencegahan TPPO Ke Masyarakat Desa Pangke.
Dibaca : 209 Kali
Antisipasi Kerawanan Kamtibmas Samapta Polres Karimun Gelar Patroli Perintis Presisi
Dibaca : 164 Kali
DLH Karimun Gelar Sosialisasi Pembayaran Retribusi Jasa Layanan Kebersihan Non Tunai.
Dibaca : 221 Kali
Bupati Iskandarsyah Sebut Inflasi Karimun Terentah Di Kepri
Dibaca : 335 Kali

  • Home
  • Riau
  • Inhil

Suyatna, S.Pd: Menjadi Guru Cerdas di Era Milineal

Indragirione

Ahad, 15 September 2019 05:38:00 WIB
Cetak

Indragirione.com,- Meninjau peradaban yang berkembang sampai hari ini, setidaknya ada siklus sejarah yang bisa mengantarkan manusia hingga era digital seperti saat ini. Secara berturut-turut masyarakat hidup berkembang dari masyarakat primitif, masyarakat agraris, masyarakat industri, dan kemudian pada perkembangan lanjut menjadi masyarakat informasi.

 Sebagaimana pernah diproyeksikan oleh Alvin Toffler bahwa abad informasi akan semakin jauh meninggalkan faktor lahan, tenaga kerja, dan juga modal biaya sebagai kekayaan dan sumber produksi sebagaimana pada tiga era sebelumnya, yakni era nomaden, era pertanian, dan era industri (Cho dan Moon, 2003: 209).

Makna kekayaan pun didefinisikan berbeda-beda setiap zamannya. Masyarakat primitif memahami bahwa kekayaan itu dimiliki oleh orang yang paling kuat. Kekuatan itu ditampilkan secara fisik dengan mengikuti kaidah rimba, siapa yang kuat, dialah yang berkuasa.

 Selanjutnya berkembang menjadi masyarakat agraris. Masyarakat ini meyakini bahwa siapa yang paling mempunyai banyak lahan, dialah orang yang kaya. Era ini memunculkan sistem feodalisme dan munculnya istilah tuan tanah. Berkembang menjadi masyarakat industri, ternyata pemahaman kekayaan juga berubah. Era industri sudah mengenal teknologi. Orang kaya di era ini didefinisikan sebagai orang yang tetap mengedepankan lahan, tetapi sudah menggunakan mesin untuk memudahkan pekerjaan dengan mengedepankan prinsip efektif dan efisien. Namun, era industri ini masih mengenal lahan, tenaga kerja, dan juga modal biaya sebagai kekayaan dan sumber produksinya.

Bob Gordon dari Universitas Northwestern, seperti dikutip Paul Krugman (2013), mencatat, telah terjadi tiga revolusi industri. Pertama, ditemukannya mesin uap dan kereta api (1750-1830). Kedua, penemuan listrik, alat komunikasi, kimia, dan minyak (1870-1900). Ketiga, penemuan komputer, internet, dan telepon genggam (1960-sampai sekarang). Versi lain menyatakan, revolusi ketiga dimulai pada 1969 melalui kemunculan teknologi informasi dan komunikasi, serta mesin otomasi (dikutip dari A. Tony Prasentiantono, Kompas 10 April 2018, hal. 1). Setelah tiga revolusi industri itu, muncul revolusi industri 4.0 atau disebut sebagai revolusi digital.

Istilah Industri 4.0 pertama kali diperkenalkan pada Hannover Fair 2011 yang ditandai revolusi digital. Revolusi industri gelombang keempat adalah tren terbaru teknologi yang sedemikian rupa canggihnya, yang berpengaruh besar terhadap proses produksi pada sektor manufaktur. Teknologi canggih tersebut termasuk kecerdasan buatan (artificial intelligent), perdagangan elektronik, data raksasa, teknologi finansial, ekonomi berbagi, hingga penggunaan robot. Era macam inilah yang sedang kita hadapi dan diperbincangkan.

Sebagai masyarakat informasi, kekayaan tidak lagi harus mempunyai lahan yang luas, tenaga kerja yang melimpah, dan modal biaya yang besar. Saat ini, kita sedang berada di era di mana perusahaan ojek, tidak mempunyai kendaraan. Toko baju, elektronik, dan sebagainya, tetapi sebagai penjual tidak perlu mempunyai atau stok barang-barang tersebut. Modal dan biaya produksi di era informasi sudah berubah. Artinya, orang kaya saat ini bisa dimiliki oleh orang yang hanya perlu sedikit lahan, sedikit tenaga kerja, dan juga modal biaya yang juga sedikit. Era inilah yang disebut sebagai era digital atau era informasi. Era ini akrab dengan penghuninya, yaitu generasi milenial.

Seperti dikutip dari artikel Tirto, Generasi Milenial, yang juga punya nama lain Generasi Y, adalah kelompok manusia yang lahir di atas tahun 1980-an hingga 1997. Mereka disebut milenial karena satu-satunya generasi yang pernah melewati milenium kedua sejak teori generasi ini diembuskan pertama kali oleh Karl Mannheim pada 1923. Dalam esai berjudul The Problem of Generation, sosiolog Mannheim mengenalkan teorinya tentang generasi. Menurutnya, manusia-manusia di dunia ini akan saling memengaruhi dan membentuk karakter yang sama karena melewati masa sosio-sejarah yang sama. Maksudnya, manusia-manusia zaman Perang Dunia II dan manusia pasca-PD II pasti memiliki karakter yang berbeda, meski saling memengaruhi. Berdasarkan teori itu, para sosiolog—yang bias Amerika Serikat—membagi manusia menjadi sejumlah generasi: Generasi Era Depresi, Generasi Perang Dunia II, Generasi Pasca-PD II, Generasi Baby Boomer I, Generasi Baby Boomer II, Generasi X, Generasi Y alias Milenial, lalu Generasi Z. (Fs)




Berita Lainnya

  • +

Babinsa Koramil 12/Batang Tuaka Aktif Laksanakan Patroli dan Sosialisasi Pencegahan Karlahut

Tim Labor Forensik Akan Didatangkan Polres Inhil Untuk Menyelidiki Penyebab Terjadinya Kebakaran Pasar Terapung

Sulitnya Medan Membuat Distribusi Material TMMD di Kabupaten Trenggalek Harus Dilangsir

Maurizio Sarri Sesumbar Chelsea Sanggup Kalahkan Timnas Inggris

Rumah di Seberang Pebenaan Kebakaran

Pasangan Kumpul Kebo Bunuh dan Perkosa Asih untuk Tumbal Pesugihan

Seminar Akademik Dengan Tema Menembus Media Massa di Era 4.0

Bupati Inhil HM. Wardan Berikan Bantuan Alat Tangkap Ikan Kepada Sembilan Kelompok Nelayan Untuk Empat Kecamatan

Atlet Senam Riau Kembali Sabet Emas di PON XXI, Pj Gubri Rahman Hadi: Alhamdulillah!

Bersama - Sama Jaga Kebersihan Ibu Kota Kecamatan Kateman

Motif Cemburu, Sepasang Kekasih di Bogor Ditusuk Lehernya

Diskes Inhil Menggelar Penyuluhan Penyalahgunaan Narkoba dan Pemeriksanaan Deteksi Dini Nafza







Tulis Komentar



Terkini

  • +Indeks
Gagal Tunjukkan Dokumen, PT Agrinas Tuding Kades Lubuk Besar Bela Cukong: Itu Pengalihan Isu!
19 Mei 2026
Polsek Tembilahan Hulu Update Pertumbuhan Jagung Dukung Program Asta Cita Ketahanan Pangan
19 Mei 2026
Prapid Parlindungan Hutabarat Ditolak, Hakim Nyatakan Penetapan Tersangka Sesuai Prosedur
19 Mei 2026
Danramil Plandaan Dampingi Kapolres Jombang Panen Raya Jagung di Desa Plandaan
19 Mei 2026
Sertu Choiri Syaifudin Lakukan Komsos dengan Petani Kangkung
19 Mei 2026
Babinsa Koramil Megaluh Selesaikan Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni
19 Mei 2026
Serda Sumanto Komsos dengan Perangkat Desa Alang-Alang Caruban
19 Mei 2026
Wujud Kemanunggalan TNI-Rakyat, Serka Soli Gelar Karya Bakti Pasang Paving Block
19 Mei 2026
Serka Khoirul Anam Dampingi Pemakaman Warga Desa Sentul
19 Mei 2026
Babinsa Koramil Kabuh Komsos dengan Perangkat Desa Kedungjati
19 Mei 2026

Trending

  • +Indeks
Modal Nekat Kangkangi Berita Acara DPRD, PT Agrinas & KSO Terobos Kebun Masyarakat Berujung Diusir Massa!
Dibaca : 240 Kali
GEMARI Desak Agrinas Evaluasi Pemenang KSO di Kebun sawit Putat Diduga Picu Kegaduhan di Tengah Masyarakat Desa Putat
Dibaca : 534 Kali
Dinas Pertanian Inhil Imbau Petani Tidak Mudah Terpengaruh Isu Saat Harga Kelapa Turun
Dibaca : 417 Kali
Permohonan Ditolak, Gugatan Praperadilan Warga Selatpanjang Kandas
Dibaca : 263 Kali
Pembangunan Jembatan Merah Putih Presisi Tahap II Gelombang 3 di Batang Tuaka Capai 20 Persen
Dibaca : 446 Kali
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
IndragiriOne.com ©2019 | All Rights Reserved By Delapan Media