Pencarian

Harga BBM Dunia Melonjak Akibat Krisis Selat Hormuz, Penjualan Mobil Listrik Global Diprediksi Tembus 23 Juta Unit pada 2026

Senin, 24 Agustus 2026 • 07:28:01 WIB
Harga BBM Dunia Melonjak Akibat Krisis Selat Hormuz, Penjualan Mobil Listrik Global Diprediksi Tembus 23 Juta Unit pada 2026
Penjualan kendaraan listrik global diprediksi mencapai 23 juta unit pada 2026, didorong kenaikan harga BBM akibat krisis Selat Hormuz.

JAKARTA — Gangguan pasokan minyak di Timur Tengah mulai mengubah peta industri otomotif global. Kenaikan harga bahan bakar yang dipicu krisis di Selat Hormuz membuat biaya operasional kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) semakin memberatkan konsumen, sehingga permintaan terhadap mobil listrik dan hybrid meroket.

Analisis Wood Mackenzie yang dikutip Oilprice.com pada Senin (24/8/2026) menyebutkan, adopsi kendaraan listrik kini bergerak lebih cepat dari perkiraan awal. Lembaga riset energi itu bahkan menyiapkan skenario bernama electric shock, yakni kondisi ketika kebijakan pemerintah, perilaku konsumen, dan teknologi bergerak bersamaan secara agresif.

Apa Itu Skenario Electric Shock?

David Brown, Director Energy Transition Research Wood Mackenzie, mengatakan skenario tersebut menggambarkan kondisi ketika tiga kekuatan utama berjalan seirama. “Jika kekuatan-kekuatan ini bertemu secara bersamaan, dampaknya terhadap adopsi kendaraan listrik bisa sangat signifikan,” ujarnya.

Dalam skenario ini, kebijakan pemerintah yang mendukung elektrifikasi, perubahan preferensi konsumen yang menjauhi BBM, serta lompatan teknologi baterai terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan. Dampaknya tidak hanya terasa di pasar otomotif, tetapi juga pada pasar komoditas mineral dan kebutuhan listrik.

Penjualan 2026: 23 Juta Unit atau 30 Persen Pasar

Percepatan itu sudah terlihat dari data penjualan sepanjang tahun ini. Mengutip laporan International Energy Agency (IEA) dalam Global EV Outlook 2026, penjualan kendaraan listrik global diperkirakan mencapai 23 juta unit sepanjang 2026.

Artinya, porsi mobil listrik dalam total penjualan mobil baru dunia mendekati 30 persen. Angka ini jauh melampaui proyeksi yang dibuat sebelum krisis energi terjadi.

Kenaikan Harga BBM Jadi Pemicu Utama

Bagi konsumen, kenaikan harga bahan bakar membuat biaya penggunaan kendaraan bermesin pembakaran internal menjadi perhatian yang semakin besar. Kondisi inilah yang mendorong pengendara di berbagai negara beralih ke kendaraan listrik maupun hybrid.

Wood Mackenzie menilai tren percepatan yang dimulai setelah kenaikan harga minyak dan bahan bakar pada awal tahun diperkirakan akan berlanjut. Namun, laju adopsi tetap menghadapi sejumlah tantangan struktural.

Tantangan: Mineral Baterai dan Jaringan Pengisian Daya

Percepatan adopsi kendaraan listrik tidak bisa berjalan mulus tanpa dukungan infrastruktur. Wood Mackenzie menyoroti kebutuhan investasi dalam jumlah besar untuk memastikan pasokan mineral penting baterai serta pembangunan jaringan pengisian daya yang memadai.

Tanpa dua hal tersebut, pertumbuhan penjualan EV berisiko melambat meski permintaan konsumen tinggi. Ketersediaan stasiun pengisian umum menjadi faktor krusial, terutama bagi konsumen yang tidak memiliki garasi pribadi.

Proyeksi 25 persen armada global pada 2040 pun dinilai masih konservatif jika skenario electric shock benar-benar terwujud. Sebaliknya, jika investasi infrastruktur tersendat, transisi energi di sektor transportasi bisa berjalan lebih lambat dari target.

Sumber: money.kompas.com

Follow www.indragirione.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks