Dapur umum yang melayani program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai beralih dari bahan bakar konvensional ke gas bumi. PGN Gagas mencatat sudah 46 SPPG yang menjadi pelanggan tetap, dengan skema pengiriman gas menggunakan modul transportasi khusus atau Gas Transportation Module (GTM).
Model bisnis ini memungkinkan gas dikirim langsung dari sumber pasokan ke lokasi pelanggan, termasuk ke daerah yang tidak terhubung jaringan pipa. SPPG Cepit Kulon di Desa Banyuwangi, Kecamatan Bandongan, Magelang, menjadi salah satu contoh pemanfaatannya sejak beroperasi pada 25 September 2025.
Konsumsi Gas Mengikuti Volume Produksi Makanan
Kepala SPPG Cepit Kulon, Achmad Chairul Jaza, mengatakan kebutuhan energi dapur umumnya relatif rutin karena operasional berjalan berkelanjutan. Konsumsi gas menyesuaikan aktivitas harian dan jumlah makanan yang harus disiapkan.
“Konsumsi CNG menyesuaikan dengan aktivitas operasional SPPG dan volume produksi makanan yang harus disiapkan,” ujar Achmad saat ditemui di Magelang, Rabu (19/8).
“Ketika kegiatan produksi meningkat, kebutuhan energinya juga dapat meningkat. Karena itu, yang penting bagi kami adalah memastikan layanan energi dapat mendukung kegiatan SPPG secara konsisten,” katanya.
Pengelola SPPG Cepit Kulon, Yayasan Cahaya Arsa Madani, memilih gas bumi karena kontinuitas pasokan menjadi prioritas utama. Aktivitas memasak dalam jumlah besar tidak bisa berhenti di tengah jalan karena keterlambatan pengiriman energi.
Infrastruktur SPBG Jadi Pekerjaan Rumah
Direktur Utama Gagas Energi Indonesia, Santiaji Gunawan, mengatakan pihaknya sudah melakukan sosialisasi penggunaan CNG kepada seluruh SPPG di Indonesia secara daring sekitar tiga bulan lalu. Responsnya cukup positif, namun ada satu hambatan besar yang belum bisa diselesaikan dalam waktu singkat.
“Kendalanya itu, tidak semua lokasi ada SPBG. Tapi kami terus mendorong supaya CNG bisa digunakan di lebih banyak wilayah,” kata Santiaji.
SPBG atau stasiun pengisian bahan bakar gas adalah infrastruktur kunci dalam rantai pasok CNG. Tanpa keberadaan SPBG di dekat area operasional SPPG, biaya transportasi gas menjadi tidak efisien dan jangkauan layanan terbatas.
Pasar Baru di Sektor Layanan Masyarakat
Masuknya SPPG sebagai pelanggan memperluas peta pemanfaatan gas bumi yang selama ini identik dengan pabrik, hotel, restoran, dan rumah tangga. Fasilitas pelayanan publik seperti dapur umum ternyata memiliki kebutuhan energi yang intensif dan berkelanjutan, menjadikannya pasar potensial bagi BUMN gas.
Skema CNG point to point menjadi solusi bagi pelanggan yang lokasinya jauh dari jaringan pipa. PGN Gagas mengirim gas menggunakan GTM dari sumber pasokan menuju lokasi pelanggan, sehingga jangkauan layanan tidak lagi bergantung pada infrastruktur pipa permanen.
Dengan 46 SPPG yang sudah terhubung dan permintaan yang diprediksi terus tumbuh seiring perluasan program MBG, PGN Gagas kini berada di posisi yang strategis untuk menggarap segmen baru ini. Tantangan utamanya tetap sama: membangun infrastruktur pengisian di lebih banyak titik agar gas bumi bisa menjangkau dapur-dapur umum di seluruh Indonesia.