INDRAGIRIONE.COM — Bursa Efek Indonesia mencatat sembilan perusahaan masih mengantre untuk melantai di pasar modal hingga 9 Oktober 2026, dengan tiga di antaranya beraset di atas Rp 250 miliar. Tujuh emiten yang sudah tercatat tahun ini baru menghimpun dana Rp 2,16 triliun, jauh di bawah periode yang sama 2025.
Direktur Penilaian BEI Saidu Solihin menyatakan pipeline pencatatan saham masih terisi sembilan perusahaan. Komposisi asetnya terbagi tiga lapis, dari skala kecil hingga besar. Sektor kesehatan mendominasi daftar tunggu dengan empat perusahaan.
Komposisi Aset dan Sektor Calon Emiten
Dari sembilan perusahaan dalam pipeline, dua beraset di bawah Rp 50 miliar, empat beraset Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar, dan tiga beraset di atas Rp 250 miliar. Sebaran sektornya:
- 4 perusahaan sektor kesehatan
- 2 perusahaan sektor energi
- 1 perusahaan sektor material dasar
- 1 perusahaan sektor keuangan
- 1 perusahaan sektor industri
Dana Dihimpun Baru Rp 2,16 Triliun
Tujuh perusahaan yang telah tercatat di BEI sepanjang 2026 menghimpun dana sekitar Rp 2,16 triliun. Realisasi itu tertinggal jauh dibanding periode yang sama tahun lalu. Hingga akhir Agustus 2026, jumlah emiten baru belum bertambah dari angka tersebut.
Seretnya minat perusahaan melantai di bursa mencerminkan kehati-hatian pelaku usaha di tengah gejolak pasar global. Perusahaan cenderung menunda penawaran umum sampai kondisi pasar dinilai lebih stabil.
OJK Sebut Ketidakpastian Geopolitik Jadi Pemicu
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menyebut dinamika global sebagai salah satu penyebab turunnya jumlah calon emiten.
"Penurunan calon perusahaan untuk melakukan IPO dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain dinamika kondisi pasar global, termasuk meningkatnya ketidakpastian geopolitik yang memengaruhi timing perusahaan untuk melaksanakan penawaran umum," ujar Hasan dalam keterangan tertulis.
Apa Artinya bagi Investor
Pipeline yang masih terisi memberi ruang bagi investor untuk mencermati calon emiten baru, terutama dari sektor kesehatan yang jumlahnya paling banyak. Namun, dengan dana terhimpun yang baru Rp 2,16 triliun, pasar IPO tahun ini dipastikan tidak sebesar tahun lalu. Investor perlu mencermati kualitas fundamental calon emiten, bukan sekadar besaran aset, sebelum mengambil keputusan.