INDRAGIRIONE.COM — Sebanyak 6.050 dari total 6.412 SPBU penyalur Biosolar telah beralih ke B50 per Sabtu (5/9), atau setara 94 persen dari seluruh jaringan. Sisanya, 362 SPBU, masih menyalurkan B40 dan terkonsentrasi di wilayah remote area.
Mars Ega mengungkapkan hal itu dalam rapat dengan Komisi XII DPR RI, Selasa (8/9). Ia menyebut peningkatan permintaan Biosolar subsidi perlu diantisipasi agar pasokan B50 ke masyarakat tetap lancar.
Pemicu Lonjakan Permintaan Biosolar Subsidi
"Namun memang saat ini dengan adanya disparitas harga yang cukup tinggi antara Biosolar B50 subsidi dengan produk-produk nonsubsidi tentu saat ini ada peningkatan demand dari sektor Biosolar subsidi," ujar Mars Ega di hadapan Komisi XII DPR RI.
Selisih harga yang lebar membuat pelaku industri dan pengguna armada cenderung memilih produk bersubsidi. Pertamina Patra Niaga sebagai badan usaha dengan jaringan distribusi Biosolar terluas pun menanggung beban permintaan yang semakin besar.
Cakupan B50 Hampir Merata di Seluruh Wilayah
Secara regional, penyaluran B50 sudah menjangkau 96 persen SPBU di Sumatera bagian utara dan 93 persen di Sumatera bagian selatan. Adapun Jawa bagian barat mencatat 99 persen, Jawa bagian tengah 98 persen, dan Kalimantan 95 persen.
- Sulawesi: 96 persen SPBU telah menyalurkan B50
- Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara: 96 persen
- Sisa 362 SPBU masih menyalurkan B40 karena kendala handling dan distribusi di daerah terpencil
Usulan agar FAME Subsidi dan Nonsubsidi Disatukan
Untuk menjaga ketersediaan Biosolar, Pertamina mendorong perubahan mekanisme pengelolaan bahan baku biodiesel atau fatty acid methyl ester (FAME). Saat ini, FAME yang diterima dan disimpan di terminal Pertamina telah dipisahkan menjadi FAME subsidi dan nonsubsidi.
Padahal, kebutuhan kedua jenis produk tersebut dapat berubah secara dinamis mengikuti permintaan pasar. Mars Ega menilai pemisahan sejak awal justru menyulitkan penyesuaian pasokan.
"Kami berharap FAME yang masuk ke terminal kami itu belum dibedakan mana FAME subsidi dan FAME nonsubsidi. Jadi perhitungan mana FAME subsidi maupun nonsubsidi dilakukan penyaluran kepada konsumen," jelasnya.
Jika mekanisme ini diubah, Pertamina dapat mengalokasikan stok secara lebih fleksibel. Perhitungan kuota subsidi baru dilakukan saat produk disalurkan ke konsumen, bukan sejak bahan baku tiba di terminal.