INDRAGIRIONE.COM — Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke rentang 3,75-4,00%, kenaikan pertama sejak 2023. Keputusan diambil lewat voting bulat 12-0 anggota FOMC sebagai respons terhadap inflasi yang masih bertahan di 3,4% year on year (YoY) pada Agustus 2026. The Fed mengisyaratkan masih terbuka satu kali kenaikan lagi hingga akhir tahun.
Kenaikan suku bunga ini menandai berakhirnya periode penantian The Fed yang menahan suku bunga sejak Januari. Selama beberapa bulan, bank sentral AS memilih mengamati dampak guncangan harga energi akibat perang dengan Iran serta membiarkan efek tarif menyebar ke seluruh perekonomian sebelum mengambil langkah baru.
Dalam rilis resminya, The Fed menyatakan inflasi masih berada di level tinggi dan kebijakan yang diambil diharapkan mempercepat kembalinya inflasi ke target 2%.
"Inflasi masih berada di level tinggi. Kebijakan yang diambil hari ini diharapkan dapat mendukung kembalinya inflasi ke target The Fed sebesar 2% secara lebih cepat," tulis The Fed.
Alasan di Balik Kenaikan: Inflasi Bertahan di 3,4%
Data indeks harga konsumen (CPI) Agustus 2026 tercatat 3,4% YoY, tidak berubah dari bulan sebelumnya. Angka itu masih jauh di atas target jangka panjang The Fed sebesar 2%.
Sejak Juli, semakin banyak pejabat The Fed mengindikasikan kenaikan suku bunga mungkin diperlukan untuk meredam inflasi. Perang yang terus berlangsung dan harga-harga yang tetap tinggi memperkuat argumen tersebut.
Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan stabilitas harga menjadi fokus utama mandat lembaganya. Ia menyebut inflasi masih terlalu tinggi dan telah bertahan pada level tersebut dalam waktu yang terlalu lama.
"Faktanya, inflasi masih terlalu tinggi dan sudah berlangsung terlalu lama," ujar Warsh dalam konferensi pers.
Warsh juga menekankan stabilitas harga merupakan fondasi bagi pertumbuhan ekonomi AS.
"Kami harus yakin bahwa inflasi yang mendasari bergerak menuju target kami secara jelas dan dengan kecepatan yang memadai. Hari ini, FOMC memutuskan bahwa standar tersebut belum terpenuhi," papar Warsh.
Sinyal Satu Kenaikan Lagi Hingga Akhir Tahun
The Fed mengisyaratkan masih ada peluang satu kali kenaikan suku bunga lagi hingga akhir tahun. Sinyal ini memberi gambaran bahwa bank sentral AS belum melihat ruang untuk melonggarkan kebijakan dalam waktu dekat.
Keputusan diambil dengan suara bulat 12-0 oleh anggota FOMC, dikutip AFP. Kompaknya voting menunjukkan kesepakatan kuat di internal The Fed bahwa tekanan inflasi masih perlu direspons dengan pengetatan moneter.
Dampak ke Pasar Global dan Indonesia
Kenaikan suku bunga AS berpotensi memperkuat dolar dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Bagi investor Indonesia, sinyal satu kenaikan lagi hingga akhir tahun menjadi faktor yang perlu dicermati dalam menyusun strategi portofolio.
Imbal hasil obligasi AS yang lebih tinggi juga bisa menarik aliran modal keluar dari pasar negara berkembang. Bank Indonesia menghadapi tantangan menjaga stabilitas kurs tanpa mengorbankan pertumbuhan kredit domestik.
Bagi pelaku bisnis, biaya pinjaman valuta asing berpotensi naik. Perusahaan dengan utang dolar AS perlu memperhitungkan ulang beban bunga ke depan.