Pencarian

BI Tahan Rate 5,75%, Deposit Facility Naik 25 bps demi Jaga Rupiah

Kamis, 22 Oktober 2026 • 06:21:03 WIB
BI Tahan Rate 5,75%, Deposit Facility Naik 25 bps demi Jaga Rupiah
Gubernur BI Destry Damayanti mengumumkan keputusan menahan BI Rate di 5,75% dalam rapat kebijakan moneter terbaru.

INDRAGIRIONE.COM — Bank Indonesia memutuskan menahan suku bunga acuan BI Rate di 5,75% dalam rapat kebijakan moneter terbaru, meski pasar terbelah soal arah kebijakan. Di saat bersamaan, bank sentral menaikkan suku bunga deposit facility 25 basis poin menjadi 5%. Keputusan ini menempatkan stabilitas rupiah sebagai prioritas di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.

Gubernur BI Destry Damayanti menyatakan keputusan menahan BI Rate diambil setelah bank sentral menaikkan suku bunga acuan secara agresif sebesar 100 basis poin pada Mei dan Juni 2026. Suku bunga lending facility tetap berada di level 6,5%.

Kombinasi kebijakan tersebut dinilai menunjukkan BI masih berupaya menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan momentum pertumbuhan ekonomi domestik. Di satu sisi, suku bunga yang tidak dinaikkan memberi ruang bagi aktivitas ekonomi untuk terus bergerak. Di sisi lain, risiko tekanan terhadap rupiah tetap membayangi ketika ketidakpastian pasar keuangan meningkat.

Deposit Facility Naik, Sinyal Serap Likuiditas

Kenaikan suku bunga deposit facility dari 4,75% menjadi 5% menjadi bagian penting dari paket kebijakan kali ini. Instrumen tersebut menjadi salah satu alat BI untuk menyerap likuiditas perbankan dan menahan aliran dana keluar dari pasar domestik.

Dengan deposit facility yang lebih tinggi, imbal hasil penempatan dana di bank sentral ikut terkerek. Langkah ini secara tidak langsung memberi insentif bagi perbankan untuk menempatkan likuiditas di BI, alih-alih menyalurkannya ke instrumen valas yang bisa menambah tekanan pada rupiah.

Destry menegaskan bank sentral akan terus memperkuat berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak gejolak global. Semua instrumen moneter, menurutnya, akan dioptimalkan.

"Termasuk memperkuat kebijakan insentif untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing serta mempercepat pendalaman pasar uang, dan pasar valas atau puva," kata Destry.

Rupiah Masih Rentan di Tengah Risiko Eksternal

Pasar keuangan global masih dibayangi sejumlah risiko yang membuat posisi rupiah rapuh. Ketidakpastian arah kebijakan suku bunga negara maju, fluktuasi harga komoditas, hingga pergerakan modal portofolio asing menjadi faktor yang harus diantisipasi bank sentral.

Keputusan menahan BI Rate memang memberi ruang bagi pertumbuhan kredit dan aktivitas ekonomi domestik. Namun tanpa kenaikan suku bunga acuan, daya tarik imbal hasil aset rupiah relatif terhadap aset negara lain berpotensi tergerus.

Di titik inilah kenaikan deposit facility berperan sebagai kompensasi. Instrumen tersebut memberi BI ruang untuk menarik likuiditas tanpa harus menaikkan seluruh struktur suku bunga acuan yang bisa menekan pertumbuhan ekonomi.

Apa Artinya bagi Investor dan Pelaku Pasar

Bagi investor obligasi, kenaikan deposit facility menjadi sinyal bahwa imbal hasil instrumen jangka pendek berpotensi ikut naik. Ini bisa memengaruhi strategi alokasi portofolio, terutama bagi investor yang sensitif terhadap pergerakan yield.

Pelaku pasar valas perlu mencermati pernyataan BI soal percepatan pendalaman pasar valas. Langkah tersebut, jika terealisasi, bisa menambah likuiditas dan kedalaman pasar sehingga pergerakan kurs lebih stabil.

Bagi pelaku bisnis, suku bunga acuan yang ditahan di 5,75% mempertahankan biaya pinjaman di level saat ini. Namun perbankan bisa lebih selektif menyalurkan kredit jika likuiditas terserap ke instrumen deposit facility.

Keputusan BI kali ini menunjukkan bank sentral memilih jalan tengah: tidak menaikkan BI Rate agar pertumbuhan tidak tertekan, tetapi menaikkan deposit facility untuk menahan tekanan pada rupiah. Keberhasilan strategi ini akan sangat bergantung pada perkembangan risiko eksternal dalam beberapa bulan ke depan.

Sumber: bloombergtechnoz.com

Follow www.indragirione.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks