INDRAGIRIONE.COM — Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, memerintahkan tim negosiatornya kembali ke Ottawa setelah pembicaraan dagang dengan AS runtuh. Ottawa mengonfirmasi akan memberlakukan tarif impor balasan "dolar demi dolar" terhadap produk-produk asal AS, merespons kebijakan Washington yang menerapkan bea masuk baru 50% untuk berbagai komoditas Kanada mulai Sabtu (22/8) kemarin.
"Kami tidak akan mundur. Jika mereka memberlakukan tarif, kami akan membalas dengan tarif yang setara," demikian pernyataan resmi yang dirilis kantor PM Kanada.
Negosiasi Gagal di Menit Akhir
Sebelum tenggat waktu, kedua negara sempat optimistis mencapai kesepakatan untuk memangkas tarif baja dan aluminium dari 50% menjadi 25%, serta tarif otomotif dari 25% menjadi 15%. Namun, pembicaraan mendadak gagal setelah Kanada menuding AS mengubah syarat secara sepihak di tengah proses negosiasi.
Kegagalan ini memupus harapan pemulihan hubungan dagang kedua negara yang sempat menunjukkan progres positif. Padahal, volume perdagangan bilateral Kanada-AS mencapai ratusan miliar dolar per tahun, dengan sektor otomotif dan logam sebagai tulang punggung ekspor Kanada.
Dampak ke Sektor Manufaktur dan Energi
Tarif balasan ini dipastikan akan mengguncang rantai pasok kawasan Amerika Utara. Produsen otomotif yang memiliki pabrik terintegrasi di kedua negara akan menanggung beban biaya produksi lebih tinggi. Sektor energi juga berpotensi terkena imbas, mengingat AS merupakan pembeli utama minyak mentah Kanada.
Bagi pelaku industri, ketidakpastian ini menjadi sinyal bahaya. Keputusan investasi jangka panjang di sektor manufaktur berisiko tertunda selama perang tarif belum mereda.
Eskalasi Berlanjut atau Jeda?
Langkah Kanada membalas "dolar demi dolar" menunjukkan sikap tegas Ottawa yang menolak tunduk pada tekanan ekonomi AS. Mark Carney, yang dikenal sebagai teknokrat dengan pengalaman memimpin bank sentral, tampaknya memilih jalur konfrontasi daripada kompromi yang merugikan industri dalam negeri.
Pasar keuangan global akan mencermati perkembangan ini. Perang dagang antara dua ekonomi terbesar di Amerika Utara berpotensi memicu gejolak harga komoditas dan mengubah arus perdagangan internasional. Investor disarankan mencermati pergerakan sektor industri dan energi dalam beberapa pekan ke depan.
Belum ada jadwal lanjutan negosiasi antara kedua negara. Dengan sikap saling mengunci, jalan menuju de-eskalasi masih panjang dan penuh ketidakpastian.