• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Home
  • Karimun
    • Karimun
  • Lifestyle
  • Fokus Inhil
  • Peristiwa
  • Riau
    • Meranti
    • Kuansing
    • Inhil
    • Inhu
    • Rohil
    • Rohul
    • Dumai
    • Bengkalis
    • Siak
    • Pelalawan
    • Kampar
    • Pekanbaru
  • Parlemen
  • Politik
  • Hukrim
  • Ekonomi
  • Desa
  • More
    • Mitra TNI
    • Mitra Polri
    • Advertorial
    • Nasional
    • Dunia
    • Opini
    • Sosbud
    • Video
    • Pilihan Editor
    • Terpopuler
    • Galeri
    • Indeks
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar
  • #Pilihan
  • #Terpopuler
  • #Advertorial
  • #Galeri
  • Indeks

Pilihan

  • +
Kantor Imigrasi Karimun, Gelar Sosialisasi TPPO Ke Masyarakat Desa Pangke.
Dibaca : 196 Kali
Imigrasi Karimun Gelar Sosialisasi Pencegahan TPPO Ke Masyarakat Desa Pangke.
Dibaca : 208 Kali
Antisipasi Kerawanan Kamtibmas Samapta Polres Karimun Gelar Patroli Perintis Presisi
Dibaca : 162 Kali
DLH Karimun Gelar Sosialisasi Pembayaran Retribusi Jasa Layanan Kebersihan Non Tunai.
Dibaca : 221 Kali
Bupati Iskandarsyah Sebut Inflasi Karimun Terentah Di Kepri
Dibaca : 329 Kali

  • Home
  • Opini

Pada Akhirnya Semua Akan Urbanisasi ke Kota

Redaksi

Selasa, 13 April 2021 10:54:36 WIB
Cetak

Oleh: M Arfah

Indragirione.com,- Saya ingat betul awal-awal kelas dua SMP beberapa tahun yang lalu, sering sekali mendengar kosakata urbanisasi. Meski pada waktu itu tidak sepenuhnya memahami dengan jelas makna kata tersebut. Belakangan barulah menyadari arti sesungguhnya urbanisasi itu setelah menjadi bagian daripada kosakata itu.

Kecenderungannya memang saat orang akan lebih memilih hijrah ke kota di banding tetap bertahan hidup di desa. Bahkan di kampung saya hampir tidak ditemukan lagi para pemuda yang berusia produktif tinggal di desa. Semua berterbangan ke kota mencari penghasilan yang dirasa cukup.

Setelah saya melakukan penelitian secara diam-diam, dapat ditarik benang merahnya bahwa kebanyakan masyarakat di desa melihat orang yang hidup di kota itu sebagai simbol kesejahteraan. Hidup dengan kenyamanan, tanpa berpanas-panasan, kerja dibalik meja. Itulah salah satu yang melatarbelakangi hijrahnya masyarakat desa ke kota.

Sementara itu masih banyak yang beranggapan bahwa masyarakat desa itu penuh dengan serba keterbelakangan, bodoh, kolot dan kurang pergaulan. Nah, pemikiran seperti ini sudah mendominasi di masyarakat pedesaan, sehingga terkadang dianggap sebagai pembenaran. Anda bisa mengatakan ketidak-setujuan  akan hal ini tapi suara kebanyakan ya, seperti itu.

Sehingga kemudian orang cenderung akan berfikiran pragmatis. "Biarlah saya kerja berat di kampung, asal nanti anak-anak saya tidak mengikuti jejak saya."

Langkah selanjutnya sudah pasti bisa ditebak yaitu menyekolahkan anak-anaknya sampai ke perguruan tinggi. Dengan harapan bekal sekolah yang tinggi itu akan mudah bekerja di kota, bisa berdasi, pakai mobil mewah, kelihatan borijus. Persis seperti tayangan televisi yang setiap hari mereka konsumsi.

Mungkin ini juga yang sedikit punya pengaruh terhadap kurang diminatinya fakultas pertanian dan perkebunan. Bisa dibilang fakultas ini seakan dianak tirikan, kalaupun ada lulusannya ya akan tetap kerja di kota bukan kemudian balik ke kampung menjadi petani.

"Lihat itu tetangga sebelah, cuman tamatan SD, tapi sudah sukses di kota. Kontrakanya sudah banyak, punya mobil juga. Bahkan sudah banyak orang kampung di sini yang ikut kerja sama dia. Tahun depan malah mau sudah memberangkatkan orang tuanya ke tanah suci. Sudah kamu ke kota saja  merantau ketimbang di kampung ini."

***

Jakarta dan beberapa kota-kota besar pada umumnya merupakan tujuan utama urbanisasi saat ini. Terkhusus Jakarta sebagai kota megapolitan, kota industri menjadi tempat berkumpulnya hampir seluruh etnis yang ada di Indonesia. Banyak yang mengatakan Jakarta itu miniaturnya Indonesia. Karena hampir seluruh suku ada di ibukota negara ini.

Hampir setiap tahun ada (biasanya setelah lebaran) saja orang yang datang ke Jakarta. Bahkan jumlahnya bisa mencapai puluhan ribu orang setiap tahunnya. Itu yang hanya bisa di data. Tentu yang tak masuk data juga banyak. Magnet Jakarta masih seperti gula yang selalu dikerumuni semut. Maka orang akan berbondong-bondong ke sana tentu dengan pengharapan akan ada perbaikan nasib.


Persoalan nanti mau berbuat apa di kota dan bagaimana cara agar sukses seperti (gambaran waktu di desa) itu tidak terlalu dipusingkan. Yang penting ke kota saja dulu, mengadu nasib, sambil terus berjuang. Inilah yang membuat Pemerintah di kota-kota besar selalu menghimbau kepada siapa saja yang ingin berangkat ke kota menyiapkan skill terlebih dahulu baru kemudian hijrah ke kota. Tidak asal modal nekat saja.

Dengan modal nekat inilah kemudian biasanya akan menimbulkan persoalan baru, yaitu pengangguran. Dan inilah juga yang menjadi masalah-masalah utama di setiap kota yang di Indonesia yakni tingginya angka pengangguran, selain juga masalah banjir dan ketimpangan sosial.

Celakanya lagi, bagi yang sudah menamatkan pendidikannya di perguruan tinggi malah lebih memilih mencari penghidupan di kota dan bekerja di sana. Padahal bisa saja ilmu yang sudah didapat itu diimplementasikan di kampungnya. "Ah, sangat susah sekarang mencari sarjana yang mau kerja di desa,". Kata teman saya pada satu kesempatan.

Saya kemudian bisa memaklumi fenomena hijrahnya masyarakat desa ke kota. Karena minimnya pilihan pekerjaan yang ada di desa. Selain jadi petani, yang hanya bisa dilakukan adalah menjadi nelayan. Pilihan pragmatis menjadi ASN memegang masih terbuka lebar tapi peminatnya sangat banyak. Bahkan bisa-bisa kita akan bersaing dengan guru yang pernah mendidik kita.

Pernah ada teman mencoba menjadi seorang pengusaha muda, berbekal dari pengalamannya mengikuti sebuah seminar di kota. Tapi malang begitu cepat menghampiri belum genap dua bulan usaha teman saya itu mengalami kebangkrutan. Karena perputaran uang di desa begitu lambat sekali. Paling mendekati musim panen barulah sedikit bergairah ekonomi setelahnya kembali lesu. Apalagi ketika gagal panen atupun harga-harga bahan pokok naik melonjak.

Pilihan untuk menjadi petani tentulah bukan pilihan bijak. Tetapi mau bagaimana lagi? Hanya itu yang bisa dilakukan. Itupun setiap tahunnya jumlah hasil panen selalu mengalami penurunan. Karena itulah sulit sekali mencari pemuda yang mau bertani di desa. Sebenarnya tidak hanya para pemuda bahkan di tempat saya sudah banyak yang meninggalkan desanya menuju kota.

Pada akhirnya memang godaan untuk hidup di kota begitu besar. Selain faktor gengsi tentu hidup di kota setidaknya bisa makan nasi dengan menggunakan garpu. Sementara di desa tidak banyak alternatif yang bisa dilakukan. Ya kalo hanya bertani saja toh pada akhirnya akan mengalami masa kejenuhan. Dan hijrah ke kota ada pilihan cukup menjanjikan.




Berita Lainnya

  • +

Awas Perompak Filsafat, Siapa Itu?!

Khairul: Pengaruh Hasil Pilkades 2021 Berdampak Arah Politik Pilkada Inhil ke Depan

Membendung Kejahatan Dunia Maya: Urgensi Kebijakan Kriminal dalam Hukum Pidana Indonesia

Pancasila Sebagai Pemersatu Bangsa

Difusi Inovasi Dalam Implementasi Program CSR

Polsek Kateman Sosialisasi Pemilu Damai di Masyarakat Air Tawar

Manajemen Pendidikan di Era New Normal (Kerjasama Orang Tua dan Pendidik)

Hari Kartini 21 April: Kartini Sang Pendidik Sejati

Dalam Sehari, Air Laut 3 Kali Minta Sama Allah untuk Menghabisi Manusia

Ketua Gemasaba Riau Ajak Kaum Milenial Kenang Jasa Para Pahlawan

Pancasila, Perempuan, dan Tugas Yang Diembannya

Motor Listrik Solusi Penurunan Biaya Subsidi dan Dekarbonisasi







Tulis Komentar



Terkini

  • +Indeks
Tim Wasev Sterad TNI Melakukan Kunjungan Kerja Ke Lokasi Program TMMD Ke 128 di Desa Brabe
19 Mei 2026
Tim Wasev Sterad TNI Tinjau Sejumlah Titik Pembangunan TMMD Ke-128 di Desa Brabe
19 Mei 2026
Tim Wasev Sterad TNI Terima Paparan Pelaksanaan TMMD Oleh Dandim 0820/Probolinggo Letkol Inf Ribut Yodo Apriantono
19 Mei 2026
Paving Jalan Dusun Klagin Hampir Rampung, Warga Sampaikan Terima Kasih Kepada Satgas
19 Mei 2026
TMMD Ke-128 Kodim 0820/Probolinggo Tingkatkan Perekonomian Warga Desa Brabe
19 Mei 2026
Penyerahan Sembako kepada Anak Yatim Warnai Kunjungan Tim Wasev Sterad TNI di Probolinggo
19 Mei 2026
Ingatkan Satgas TMMD Jaga Sinergi Dan Faktor Keamanan, Kapten Inf Yahudin Beri Pengarahan dan Motivasi Di Lokasi Pembangunan Tandon
19 Mei 2026
Mantan Dandim 0820/Probolinggo Terima Sambutan Hangat Saat Kunjungi Lokasi TMMD Ke-128 di Desa Brabe
19 Mei 2026
RTLH Rampung, Rikso Kini Miliki Rumah Layak Huni.
19 Mei 2026
Satgas Perkuat Sinergitas Dengan Tenaga Kesehatan Melalui Komunikasi Sosial
19 Mei 2026

Trending

  • +Indeks
GEMARI Desak Agrinas Evaluasi Pemenang KSO di Kebun sawit Putat Diduga Picu Kegaduhan di Tengah Masyarakat Desa Putat
Dibaca : 525 Kali
Dinas Pertanian Inhil Imbau Petani Tidak Mudah Terpengaruh Isu Saat Harga Kelapa Turun
Dibaca : 415 Kali
Permohonan Ditolak, Gugatan Praperadilan Warga Selatpanjang Kandas
Dibaca : 261 Kali
Pembangunan Jembatan Merah Putih Presisi Tahap II Gelombang 3 di Batang Tuaka Capai 20 Persen
Dibaca : 437 Kali
Polsek Tempuling Turun ke Lahan, Jagung Desa Teluk Jira Jadi Simbol Semangat Swasembada Pangan
Dibaca : 346 Kali
Ikuti kami di:
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Info Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
IndragiriOne.com ©2019 | All Rights Reserved By Delapan Media