INDRAGIRIONE.COM — Stunting masih menjadi momok bagi banyak orang tua di Indonesia. Dampaknya tidak hanya pada tinggi badan anak, tetapi juga kemampuan belajar dan daya tahan tubuh di kemudian hari. Namun, kabar baiknya, risiko ini bisa dicegah sejak usia dini lewat pola asuh yang tepat.
Di Sragen, Jawa Tengah, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) mengadakan edukasi di Posyandu Kemuning VII, Dukuh Kolutan, Desa Karangwaru. Kegiatan ini menyasar ibu balita dan melibatkan kader posyandu sebagai pendamping. Fokus utamanya: memperkuat pemahaman ibu tentang gizi, kebersihan, dan stimulasi anak.
Mengapa Pola Asuh Begitu Menentukan?
Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa sebagian ibu balita masih menitikberatkan pola asuh pada soal kenyang saja. Padahal, tumbuh kembang anak melibatkan banyak faktor, termasuk bagaimana orang tua menjaga kebersihan dan merangsang perkembangan otak si kecil.
Nurma Salsih Pratami, mahasiswi Program Studi Manajemen FEB UNISRI yang menjalankan program ini, melihat kurangnya informasi tersebut sebagai celah yang perlu diisi. Melalui sosialisasi di posyandu, ia mencoba membuka wawasan ibu balita agar tidak hanya fokus pada porsi makan, tetapi juga kualitas pengasuhan secara menyeluruh.
1. Gizi: Lebih dari Sekadar Kenyang
Pemenuhan gizi balita tidak cukup jika hanya mengenyangkan. Anak butuh asupan protein hewani, vitamin, dan mineral yang seimbang untuk mendukung pertumbuhan tulang dan otak.
Pada sesi edukasi, peserta diajak mengenali sumber makanan bernutrisi yang mudah didapat di sekitar rumah. Kuncinya adalah variasi menu dan konsistensi dalam memberikan makanan bergizi setiap hari.
2. Kebersihan: Mencegah Infeksi yang Menghambat Pertumbuhan
Tahukah kamu, infeksi berulang seperti diare bisa menyebabkan anak kekurangan nutrisi meskipun makannya banyak? Karena itu, kebiasaan mencuci tangan dengan sabun, menjaga kebersihan makanan, dan memastikan lingkungan rumah sehat menjadi bagian penting dari pencegahan stunting.
Di sinilah ibu berperan besar. Membiasakan si kecil hidup bersih sejak dini membantu tubuhnya menyerap nutrisi lebih optimal.
3. Stimulasi: Kunci Perkembangan Otak dan Motorik
Selain fisik, perkembangan otak anak juga butuh rangsangan. Mengajak bayi bicara, bermain, membacakan buku, atau sekadar memberikan mainan yang sesuai usia adalah stimulasi yang tidak kalah penting dibandingkan makanan.
Stimulasi yang rutin membantu anak mencapai tonggak perkembangan (milestone) dengan baik. Ini juga mempererat ikatan emosional antara ibu dan anak, yang berdampak positif pada kesehatan mentalnya kelak.
"Pola asuh yang baik perlu diterapkan secara konsisten karena pemenuhan gizi, kebersihan, dan stimulasi memiliki peran penting dalam mendukung tumbuh kembang anak," ujar Nurma Salsih Pratami.
Dukungan Kader Posyandu untuk Keberlanjutan
Agar edukasi tidak berhenti di satu sesi, kegiatan ini melibatkan kader Posyandu Kemuning VII sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan. Media sosialisasi seperti MMT dan PowerPoint juga disediakan, sehingga materi dapat dipakai ulang pada pertemuan posyandu berikutnya.
Dengan begitu, ibu balita tetap mendapatkan pengingat saat datang ke posyandu. Peran kader sebagai penghubung informasi kesehatan menjadi kunci agar pola asuh yang benar bisa dijalankan keluarga dalam jangka panjang.
Mencegah stunting dimulai dari rumah. Tidak perlu menunggu kaya atau sempurna, yang penting konsisten memperhatikan gizi, kebersihan, dan stimulasi setiap hari. Si kecil sehat, ibu pun tenang.