Pencarian

Harga Batu Bara Tembus USD145, Tertinggi dalam 11 Pekan

Rabu, 02 September 2026 • 12:11:31 WIB
Harga Batu Bara Tembus USD145, Tertinggi dalam 11 Pekan
Harga batu bara mencapai USD145 per ton pada awal September, level tertinggi dalam sebelas pekan terakhir.

INDRAGIRIONE.COM — Harga batu bara sedang menikmati tren kenaikan yang signifikan. Pada awal September, komoditas energi ini diperdagangkan di kisaran USD145 per ton atau setara lebih dari Rp2,3 juta per ton (kurs estimasi Rp16.000). Angka ini menjadi yang tertinggi sejak pertengahan Juni lalu, mencerminkan tekanan pasokan yang belum mereda di pasar internasional.

Koreksi pasar terjadi justru saat China, konsumen batu bara terbesar dunia, melaporkan pencapaian historis: kapasitas pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) kini menjadi sumber kapasitas terbesar di negara tersebut. Untuk pertama kalinya, PLTS melampaui pembangkit berbahan bakar batu bara dalam hal kapasitas terpasang.

Mengapa Harga Tetap Melonjak?

Dorongan China untuk mempercepat transisi energi hijau nyatanya belum mampu meredam hasrat pasar terhadap batu bara. Data Trading Economics menunjukkan, permintaan energi global yang melonjak justru memperlambat upaya menggantikan bahan bakar fosil dengan sumber terbarukan.

Artinya, meskipun pembangunan infrastruktur surya masif dilakukan, kebutuhan listrik yang tumbuh lebih cepat membuat batu bara tetap menjadi tulang punggung kelistrikan dunia. Kondisi ini diperparah oleh gangguan pasokan di beberapa negara produsen utama, yang membuat harga semakin tertekan ke atas.

Batu Bara Masih Raja Energi Global

Perlu dicatat, status batu bara sebagai sumber listrik utama dunia belum tergoyahkan. Data menunjukkan komoditas ini menghasilkan hampir 11.000 terawatt-jam (TWh) listrik secara global, angka yang masih jauh di atas kontribusi energi surya maupun angin.

Pergeseran ke energi terbarukan memang sedang berjalan, tetapi realitas di lapangan menunjukkan transisi itu tidak bisa terjadi dalam semalam. Setiap negara menghadapi dilema yang sama: menjaga keandalan pasokan listrik sambil menekan emisi karbon.

Untuk Indonesia sendiri, kabar ini menjadi angin segar bagi penerimaan negara. Sebagai salah satu eksportir batu bara terbesar dunia, setiap kenaikan harga berarti tambahan pendapatan ekspor dan royalti yang masuk ke kas negara melalui sektor pertambangan.

Para analis memperkirakan volatilitas harga akan terus berlanjut dalam beberapa pekan ke depan. Cuaca ekstrem di kawasan produsen utama serta ketegangan geopolitik yang masih membayangi jalur distribusi energi menjadi faktor penentu arah pergerakan harga selanjutnya.

Sumber: idxchannel.com

Follow www.indragirione.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks