INDRAGIRIONE.COM — Produksi pipa bawah laut sepanjang 80 kilometer untuk Lapangan Gas Mako di Wilayah Kerja Duyung, lepas pantai Natuna, resmi dimulai di Batam. Pipa ini menjadi tulang punggung proyek yang ditargetkan masuk tahap konstruksi pada Desember 2026, dengan seluruh gasnya dialirkan ke pasar dalam negeri.
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto menyatakan produksi pipa sudah berjalan dan konstruksi proyek Mako ditargetkan bisa dieksekusi bulan depan. Groundbreaking akan dilakukan oleh Menteri Koordinator sekaligus Menteri ESDM.
Langkah ini menandai dimulainya salah satu proyek gas lepas pantai yang paling ditunggu di kawasan Natuna. Selama bertahun-tahun, gas dari wilayah tersebut hanya punya satu jalur keluar, yakni pipa menuju Singapura.
“Produksi pipa dalam negeri sepanjang 80 km untuk proyek pengembangan lapangan gas offshore WK Duyung Lapangan Mako Natuna, hari ini mulai diproduksi di Batam. Insya Allah bulan depan groundbreaking oleh Bapak Menko/Menteri ESDM,” ujar Djoko dalam keterangannya, Minggu (1/11).
Siapa yang Menggarap Proyek Mako
Lapangan Gas Mako digarap konsorsium Kontraktor Kontrak Kerja Sama West Natuna Exploration Ltd (WNEL). Komposisinya, Conrad memegang 25 persen saham dan PT Nation Natuna Barat 75 persen.
Pekerjaan proyek tidak berhenti di pipa. Fasilitas produksi dibangun di dalam negeri, mencakup fasilitas PT PAL Indonesia di Surabaya dan yard di Batam. Pengerjaan juga meliputi pemboran sumur lepas pantai Natuna serta penggelaran pipa bawah laut sepanjang 80 km.
Seluruh rangkaian pekerjaan dijadwalkan rampung dalam dua tahun ke depan. Setelah beroperasi, Lapangan Mako ditargetkan mampu mengalirkan gas hingga 111 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).
Gas Natuna yang Berbalik Arah ke Dalam Negeri
Rencana awal, gas Lapangan Mako hendak dialirkan ke Singapura. Penyebabnya infrastruktur pipa dari Natuna selama ini hanya memiliki jalur transmisi ke negara tersebut.
Situasi berubah setelah pembangunan pipa West Natuna Transmission System (WNTS) menuju Pulau Pemping, Batam, selesai. Jalur baru itu membuka peluang gas Natuna dimanfaatkan di dalam negeri.
Dengan infrastruktur yang tersedia dan persetujuan Menteri ESDM, seluruh produksi Lapangan Mako akhirnya diputuskan untuk pasar domestik.
“Gas yang awalnya akan dialirkan ke Singapura karena hanya ada satu pipa dari Natuna ke Singapura, namun dengan selesainya pembangunan pipa WNTS-Pulau Pemping-Batam dan atas persetujuan Bapak Menteri ESDM, akhirnya gas seluruhnya 100% dialirkan ke domestik, khususnya untuk kelistrikan di Batam dan sekitarnya,” jelas Djoko.
Harga Lebih Rendah, Prioritas Tetap Domestik
Djoko mengakui harga gas ke Singapura secara komersial lebih tinggi. Meski begitu, pemerintah memilih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan energi dalam negeri.
Bagi Batam dan sekitarnya, keputusan itu berarti tambahan pasokan gas untuk pembangkit listrik. Pasokan 111 MMSCFD memberi ruang lebih besar bagi keandalan listrik di kawasan industri yang selama ini menjadi pintu masuk investasi manufaktur.
Proyek Mako juga menempatkan rantai pasok dalam negeri sebagai pemain utama, dari pembuatan pipa di Batam hingga perakitan fasilitas produksi di Surabaya. Jika jadwal konstruksi Desember 2026 berjalan sesuai rencana, Lapangan Mako bisa menjadi contoh bagaimana infrastruktur pipa menentukan arah pemanfaatan gas nasional.