INDRAGIRIONE.COM — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat hingga November 2026. Penopang utamanya adalah surplus neraca perdagangan dan inflasi yang terkendali, di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah akibat dinamika pasar keuangan global.
Pemerintah menilai sejumlah indikator makroekonomi masih menunjukkan kinerja positif. Neraca perdagangan mencatat surplus, ekspor tumbuh, dan inflasi bergerak dalam rentang yang terkendali. Kombinasi itu disebut menjadi modal menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi pergerakan rupiah.
Surplus Perdagangan Rp 3,36 Miliar Dolar AS pada September 2026
Indonesia membukukan surplus perdagangan sebesar 3,36 miliar dolar AS pada September 2026. Menurut Airlangga, capaian tersebut memperlihatkan ekspor nasional masih memberi kontribusi positif bagi perekonomian. Kemampuan mempertahankan surplus di tengah perubahan permintaan global dinilai menjadi penopang ketahanan sektor eksternal.
Pemerintah menyoroti pentingnya menjaga daya saing produk dalam negeri dan memperluas pasar ekspor. Penguatan sektor industri agar menghasilkan produk bernilai tambah disebut menjadi kunci agar kinerja perdagangan terus mendukung aktivitas ekonomi. Ketika permintaan terhadap produk nasional terjaga, kegiatan industri dan rantai pasok berpeluang ikut berkembang.
Inflasi Oktober 2026 Tercatat 3,23 Persen Secara Tahunan
Dari sisi stabilitas harga, inflasi Indonesia pada Oktober 2026 mencapai 3,23 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Secara bulanan, inflasi tercatat 0,22 persen, sementara inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) sebesar 2,4 persen. Data itu dipakai pemerintah untuk memantau kondisi harga barang dan jasa sekaligus menjaga daya beli masyarakat.
Pengendalian inflasi disebut berkaitan erat dengan kepercayaan masyarakat. Kenaikan harga yang terkendali membantu rumah tangga mengelola pengeluaran dan memberi kepastian bagi pelaku usaha dalam menyusun rencana produksi maupun investasi. Pemerintah menekankan pentingnya kelancaran distribusi barang, ketersediaan pasokan, serta koordinasi pengendalian harga di tingkat pusat dan daerah.
BI Akui Rupiah Masih Menghadapi Tekanan Global
Di tengah indikator ekonomi yang relatif positif, nilai tukar rupiah tetap menghadapi tekanan akibat perkembangan pasar keuangan global. Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi berbagai faktor, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Meski begitu, ia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat dibandingkan sejumlah negara lain di kawasan.
"Pergerakan rupiah merupakan bagian dari dinamika pasar keuangan," kata Destry, seperti dikutip dari keterangan resmi.
Nilai tukar terbentuk melalui mekanisme permintaan dan penawaran valuta asing, serta dipengaruhi persepsi pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi. Perubahan kebijakan moneter negara maju, perkembangan geopolitik, dan arus modal internasional turut memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang. BI menegaskan komitmennya menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global.
Koordinasi Pemerintah dan BI Jadi Kunci Sektor Riil
Stabilitas nilai tukar berkaitan langsung dengan keberlangsungan sektor riil. Dunia usaha membutuhkan kondisi ekonomi yang relatif stabil untuk mempertahankan produksi, memperluas kegiatan usaha, dan membuka lapangan pekerjaan. Karena itu, koordinasi kebijakan antara pemerintah dan BI dinilai penting untuk menjaga iklim usaha tetap kondusif.
Bagi investor, kombinasi surplus perdagangan, inflasi yang terkendali, dan komitmen BI menjaga stabilitas kurs menjadi sinyal yang perlu dicermati. Ketiganya memengaruhi ekspektasi terhadap imbal hasil obligasi maupun pergerakan dana asing di pasar keuangan domestik. Namun, arah kebijakan moneter negara maju dan tensi geopolitik tetap menjadi variabel yang bisa mengubah gambaran tersebut dalam waktu singkat.